Selasa, 30 November 2010

Maaf Kalau Saya Aneh?!?

Owgh My Godness!! Dia noleh ke arahku! God!! Baru kali ini dia beringsut menghadap ke arahku, dengan muka termanis yang pernah diladenkannya padaku. Gilaaa!! Kuhitung dengan seluruh jari yang kumiliki, aku yakin bahwa dia baru pertama kali ini melakukannya. Just for me- her secret admirer!! Gendang beralunkan musik kecapi seakan mengantar otakku pada kenakalan tersendiri bersama badan montoknya. Bagaimana rasanya menjamah dada seksinya? Bagaimana rasanya melenguh dalam keluhan bisu yang ingin kudengar dari mulutnya? Bagaimana rasanya kurebut dan kukoyak baju minimnya yang sengaja diperdabkan hanya sekian jengkal dari pangkal dadanya? Bagaimana jika ranjang kecil turut bergoyang ria di bawah teguran kaki yang saling beradu, bertanding siapa yang paling kuat.
“Anjrit!! Seksi banget dia!”
“Kaya gitu lo bilang seksi?”
“Dari pada lo”
“Yaah, setidaknya toket gue lebih satu nomer dari pada dia!”
“Yang penting bukan toket kali! Penting sih, tapi lebih penting lagi isepannya!”
”Gila lo!”
”Di jaman kaya gini kalo ga gila pasti dilindas, mending pilih gila kan?”
”Terserah lo deh..”
Dia berjalan tepat tiga langkah dari ujung sepatuku. Bertas selempang Le Sands- yang tak begitu menggerogoti kantung uang tapi cukup membuat mata mengarah padamu ketika membawanya- bergaya androgini plus mantol panjang  yang menutupi seluruh lekuk tubuhnya. Come on, babe! Look at me, than do me (do me  di sini berarti, setidaknya pandang gue bentar aja donk..). Parfum lama keluaran Estee Lauder bernama seri intuitions menyuguhkan aroma wanita pemuja mode dalam hidungku- tak begitu tercium, namun cukup untuk membangkitkan pertanyaan “parfum lo apa si?”. Sisanya, kaca mata hitam Oakley terbenam jelas dalam kelopak matanya. Dan sisanya lagi, kulit  sawo matang yang sedikit  muncul di atas potongan V-neck dalamannya. Itu! Itu yang bikin gairah memuncak. Kulit sawo matang yang jarang dimiliki wanita Indonesia -yang sering kali memuja kulit putih sebagai tanda kecantikan ilahi- bukan maksudku berkata bahwa aku cantik karena kulitku yang putih. Tapi itu kenyataannya.
Mataku seakan dilekatkan pada pantatnya yang semakin menjauh. Tak pernah sebelumnya aku merasakan kenikmatan seperti ini ketika memandang wanita. Aku tahu mereka adalah makhluk eksotis yang patut dikagumi, tapi untuk Rumi, dia kuberi nilai 13 untuk skala nilai 1-10. Sepuluh untuk gayanya yang slengekan tapi tetap terlihat elegan (tentu saja ditambah body seksi nan montok). Sebelas untuk pantatnya yang terus bergoyang, membuat mataku juga ikut berdansa sepanjang masa. Dua belas untuk suaranya yang berat dan seksi. Dan tiga belas, karena dia belum mau menoleh padaku. I’ll get you soon!
Sementara aku. Aku disamakan banyak mulut dengan kata-kata ”aneh”. Aneh untuk semuanya. Aneh untuk pemikiranku. Aneh untuk suaraku yang cempreng dan dianggap tak memiliki wibawa sama sekali. Aneh untuk penampilanku yang tak pernah konsisten, antara biru dan kuning, tak pernah sekian tahun lamanya memakai satu warna yang menunjukkan siapa aku sebenarnya. Aneh untuk bahasaku yang amburadul, antara Jawa kuno, Inggris, Indonesia, dan kebanyakan bahasa daerah yang tak pernah kulepas menjadi satu identitas sosialku. Aneh untuk rambutku, yang tak pernah kubiarkan panjang, terus saja kupangkas untuk menghindari keringat yang tak kunjung berkejar-kejaran di atas dahi mungilku. [ada yang bilang, memangkas rambut sedemikian itu adalah untuk melarikan diri dari sebuah pernyataan klise mengenai kehidupan]. Aneh untuk keluargaku yang tak pernah bisa berdamai dengan kehidupan. [Ada yang bermain-main dengan gelar ibu. Ada juga yang berpura-pura sebagai ayah. Dan ada pula yang telah pergi meninggalkanku tanpa salam perpisahan sedikit pun.] siapa dan apa tujuan mereka, aku tak peduli.
Aneh dengan kakiku yang jauh lebih besar dari ukuran pada umumnya. Aneh dengan lagu-lagu kesukaanku. Aneh dengan pakaian dalam yang kupilih. Aneh dengan makanan kegemaranku. Aneh dengan minuman kesukaanku. Aneh dengan segala tindakan dan hobi yang kuyakini bisa membawa rezeki jika kutekuni lebih dalam lagi. Semuanya tak ada dalam jalur yang seharusnya dijalani manusia berpredikat suci. It’s me, myself.
                                                           
                                                Rumah..
Kuputar mesin bernama vcd player yang tergabung dalam satu kesatuan dengan piranti elektronik lainnya. Aku duduk termangu ke arah jendela besar yang berbatasan langsung dengan tanah milik tetangga. Kubuka jendela itu, kunaikkan kakiku ke atas kayu penyangga yang ada di sampingnya. Kusulut batangan rokok yang kusimpan setidaknya tiga jam dalam bungkusannya. Hanya tersisa tiga di dalamnya. Seandainya saja aku beli dulu tadi. Setidaknya, jika aku ingin tidur, aku bisa memusingkan dulu kepalaku dengan asap rokok yang terus berkutat dalam ruang yang cukup besar ini.
Lagu itu terus berputar melangkahi jejak otakku sendiri. Melewati setiap sel yang terpampang manis, berunjuk diri mencoba berkata ”i’m the genius one..”.
Ada bangsat di kursi..
Menggiggiti pantatku oooww..
Kau tinggalkan,tinggalkan diriku malam ini, begitu saja..ooww yeeahh
Ada bangsat di kursi..
Menggerogoti darahku..
Kau maki, maki, maki diriku..
Begitu saja.. owww yeaahh..
Bangsatku jadi gemuk,, bersihin darah darahku, lalu cabut dariku
Aku terkapar kaku..
Bangsatku yang cantik, jangan kau tinggalkan diriku..
Bangsatku tercinta.. ooww..
Jangan kau maki aku! Jangan!
Teototottettoto...
Kenal lagu itu? Album ke sekian dari musisi yang dipuja anak muda sepertiku. SLANK. Dengan segenap kebersahajaan kata-kata, aku terhirup ke dalamnya dengan lembut, tanpa rasa sakit sedikit pun. Kuhirup asap rokok kretek itu itu dalam-dalam. Kusembulkan di atas kepalaku yang semakin plontos. Asap itu membumbung tinggi meninggalkan aku.
Tok,tok,tok..
”siapa siy? Ganggu aja!”
”makan dulu, Vin!”
”ntar..”
”nanti sakit lo..”
Tepat sekali! Dia datang bertepatan dengan alunan lagu ”Begitu Saja” dari Slank. Kenalkan. Dia ibuku. Atau entah ibu dari jabang bayi mana saja yang telah dihancurkannya di klinik bersalin tak bernomor resmi. Dia yang sok bermain dengan kata yang berjudul ibu. Tidak pernahkah dia tahu kalau asap rokok lebih mengenyangkan? Tidak pernahkah dia sadar bahwa anaknya beranjak semakin dewasa dan tak membutuhkan sokongan gizi di atas rata-rata [seperti ketika aku masih merangkak]? Dia sangat suka bergincu merah maroon, sebuah produk keluaran Revlon nomor 19, untuk penutup bibir sang pecandu rokok. Mengenakan celana berpotongan pendek sepaha ditambah back less yang tampak sempurna di atas lekuk tubuhnya yang masih ranum. Berjari mucuk eri [standar kecantikan orang Jawa, jari kurus memanjang ditambah kuku tajam bagai pucuk duri mawar] plus kutex violet kehitaman. Bahkan tak ada yang mengira bahwa dia adalah seorang ibu berumur 32 tahun. 32 tahun? Jangan terlalu terkejut dengan hal itu. Hanya aku satu-satunya manusia yang berhasil keluar dari rahimnya, tanpa disentuh sedikit pun obat penggugur, gayung pemukul perut buncit, suntikan pembawa maut, atau pun tangan-tangan dokter yang merogoh kemaluannya. Mungkin pikirannya masih waras saat itu, sama sekali dibaluri kepolosan dan rasa bersalah yang menggerogoti dirinya. Jadi keluarlah aku. Bayi kecil berbobot 2,7 kg, tanpa ayah biologis yang mendampinginya.
Seandainya saja pikirannya masih sewaras saat itu. Setidaknya dia tidak akan memutuskan berhubungan badan untuk kesekian kalinya dengan seorang pecandu narkoba kelas berat di bawah lembaga yang melegalkan seks. Setidaknya dia tidak membuat aku menjadi anak yang berpredikat ”aneh”. Setidaknya, dia tidak akan menawari makan siang saat jarum waktu menunjuk ke arah lima, tanpa sedikit pun menanyakan keberadaanku di kampus. Dan setidaknya, dia tidak akan menjual kemaluannya untuk lelaki-lelaki hidung belang yang berlalu lalang di luar sana dengan alasan pemenuh kebutuhan ekonomi keluarga.
Aku hanya menoleh sekejap mata. Memandang pintu itu tetap tertutup, tak pernah satu orang pun yang mencoba menjamahnya untuk berkata ”sayang..”. kuhirup rokokku semakin dalam. Kuhempaskan kembali asap-asap itu sembari berjalan ke arah lemari pakaianku. Mencari-cari teman dekat yang akan kukenalakan juga padamu. Mana ya? Sebentar. Ow, ini dia.. sebotol kecil Baileys, sebotol kecil Widmer Brother persembahan teman kampusku, dan sebotol kecil [sekali] dry martini lychee kesukaanku. Baileys, kamu sekarang yang harus menemaniku!
Kunaikkan lagi kakiku. Kuhirup asap rokok  Samsu kesukaanku. Kubuka penutup Baileys, kutenggak sedikit, kupicingkan sedikit mata kiriku, kutelan, dan ”aaaagghhh..”. Panas kopi berakohol terkesan kental dalam botol kecil itu. Kusendengkan kepalaku di atas kursi kesayanganku. Kututup mata, sedikit bergeleng menikmati alur musik yang semakin menusuk cuping telingaku.
If loving you is wrong, I don’t want to be right..
Siapa yang peduli dengan orang-orang rumahan yang tak pernah berada di rumah? Siapa yang peduli dengan orang-orang yang tak pernah memedulikan aku? Harusnya aku peduli. Dengan seorang ibu yang lebih tepat kuanggap sebagai pelacur ditambah seorang lelaki yang entah datang dari mana. Sedikit demi sedikit dia menggerogoti uang yang ada dalam tabungan keluargaku dengan alasan tertentu [baca: obat terlarang].
Aku tak meminta dilahirkan dengan keadaan seperti ini. Sama sekali aku tak pernah meminta. [musik berganti lagi]

Don’t you cry tonight.. I still love you baby..
Don’t you cry tonight,, there’s a heaven above  you,baby..
Aku tak meminta untuk hadir dalam kandungan ibuku selama dia berhubungan intim dengan orang yang dicintainya- Yang mengakui cinta hanya ibuku kurasa- Tidak dengan pemilik sperma yang entah berada di mana sekarang. Jadi jangan pernah mempersalahkan aku. Jangan pernah ada tangan yang mencoba untuk memukul wajahku berulang-ulang. Jangan pernah ada sulutan rokok yang mampir barang sejenak di atas kulit putihku (am I beatufully blessed?). Dan jangan pernah ada cacian yang seakan diludahkan bertubi-tubi di depan wajahku. Lebih baik aku berkenalan dengan tangan dokter atau suster yang mencoba menarikku keluar saat usiaku mencapai 3 minggu. Lebih baik aku terdampar di atas ember dengan tangan yang terpisah dari kakiku. Atau lebih baik aku berjuang mempertahankan hidupku dari serangan obat-obat penghancur janin. Aku lebih mengamini itu terjadi dalam hidupku dari pada harus berkutat dengan masalah yang kurasakan semakin memuakkan. Hanya sebagai balasan dari karma yang dilakukan ibuku.
Mataku semakin terbuka. Memandang jauh ke atas plafon yang semakin menghitam karena jamur. Mencoba menepis segala kekesalan yang coba kusimpan beberapa tahun hidupku. Tanpa sedikit pun memaknai siapa atau apa yang tinggal seatap denganku. Kurasa hanya onggokan daging berbelatung yang siap untuk kubuang jika aku terlanjur muak.

20.00
Upzzz!! Aku ketiduran! Dengan segala kekesalan yang kutumpuk, dengan mudahnya mataku terpejam di atas peraduan. Musik itu terhenti sendirinya. Tak lagi berputar seperti tadi. Kuangkat kepalaku. Pusing. Dari tadi posisiku terus begini. Kepala menggelepar ke bagian belakang, kaki terpasung di antara jendela, dan tangan masih memegang botol kecil pelepas dahaga. Aku mencoba bangkit berdiri. Kepalaku mencoba mencari pembenaran. Menoleh ke kiri dan ke kanan dengan picingan mata yang kian tajam. Gelap. Tak ada cahaya sedikit pun. [Bodoh! Ya iyalah ga ada cahaya, namanya aja gelap ya pasti ga ada cahaya].
Kakiku kulangkahkan ke arah pintu. Seperti biasanya, tenggorokanku terasa perih karena terlalu banyak asap yang kuhisap dan air yang kuteguk. Tulangku menjadi lunglai tak bertenaga. Seakan-akan jarak pintu dari kursi kesayanganku menjadi berjuta kilometer. Pernyataan berlebihan yang selalu disampaikan orang yang setengah mabuk, jarak menjadi amat sangat panjang. Padahal, jarak itu tak pernah berubah dari lima jangkahan kaki. Kubuka perlahan. Lampu di lantai bawah menyala. Tapi sama sekali tak kudengar ada nyawa yang berbisik. Aku memberanikan diri berjalan ke arah bawah. Mencoba mencari onggokan daging busuk sambil menahan rasa sakit di tenggorokanku. Kubuka pintu yang tersedia satu per satu.
Satu pintu tak ada nyawa. Dua pintu tak ada nyawa. Tiga pintu. Baru ada nyawa. Dengan bau papir terbakar yang sangat menyengat. Dengan separuh bagian kepala yang tersembul dari samping tempat tidur ukuran queen size, bakaran papir plus ganja juga ikut merebak ingin ditonton. Kupandangi sejenak. Namun kurasa dia tak berkeinginan untuk membalas pandanganku. Terus saja tangannya menutup rapat bagian mulut dan hidung untuk mengurangi jumlah asap yang keluar. Kepalanya mendongak ke atas, hidungnya berdengus-dengus, mencoba menarik asap lebih kuat lagi. Dan Aggghhh.. satu hisapan penuh arti telah dilakoninya. Aku tak pernah tahu di mana ibuku memungutnya. Hingga saat ini, bau sampah tak pernah hilang dari mulut dan badannya, bahkan anjing jalanan pun memiliki periangai yang lebih baik darinya. Kurasa dia hanya dijadikan penutup status keberadaanku. Yah, itu tadi. Biasa disebut teman-temanku dengan nama Ayah. Bukan aku tapi yang memberi nama itu. Dan sampai kapan pun aku tak akan pernah memanggilnya demikian.
Kututup kembali pintu itu. Perjalananku kuarahkan pada sebuah ruangan kecil, tempat di mana ibuku sering membuatkan makanan ala kadarnya. Kubuka tutup saji berenda hijau daun itu, kutatap isinya. Telur bumbu bali, nasi, rempeyek, dan sambal bawang kesukaanku. Dia masih tau apa kesukaanku.
Kuambil piring bergambar ikan biru berpasangan yang telah disiapkan untukku, dengan gelas yang kulihat telah diisi dengan susu Dancow dengan satu setengah sendok teh gula, hanya tinggal kuberi air hangat. Dia masih hafal dengan permintaanku. O iya, tolong baca ”dia” dengan Ibu. Kuambil porsi nasiku, kupilah dan kupilih lauk yang cocok dengan moodku. Kuambil sambal bawang dengan tempe yang dihancurkan, ditambah telur bumbu bali [dan tak kusangka, dia telah mengeluarkan kuningnya, agar aku tak perlu repot memisahkan bagian putih dan kuning telurnya]. Sekali lagi, dia memerhatikanku. Lebih dari yang kusangka.
Aku termenung. Mencoba mengingat apa yang pernah diajarkan padaku. Mengatubkan tangan, berucap salam pada yang telah memberi berkat. Amin. Dan aku tertawa. Tertawa dengan sunggingan terhina. Dengan apa yang pernah kupikirkan di atas kursi kesayanganku hampir empat jam yang lalu. Dan akhirnya menangis. Menangis dengan mulut penuh nasi dan lauk. Kubiarkan untuk sementara tangis itu beradu dengan nasi dan lauk paukku. Hanya sementara, hingga kuusap pipiku dengan tangan kiriku. Dan  kulanjutkan makan dengan senyum kecil. Yang artinya aku bisa berkata ”baiklah, kau kumaafkan hari ini, Ma..”.
Seandainya aku bisa bercerita padamu..

21.25
Kutepiskan semua pelengkap badanku. Aku melangkah ke dalam kamar mandi dengan badanku yang semakin putih dan mengurus. Tak ada otot yang mencuat di dalam lenganku. Rambutku membutuhkan sedikit sapaan pembersih dan pelembut. Dan tentu saja kemaluanku yang harus senantiasa kubersihkan, agar sama sekali tak ada jamur yang tumbuh si atasnya. Sisanya mulutku yang harus kubersihkan dengan produk bahan kimia yang berbau mint. Lewat dua puluh menit aku di dalam kamar mandi. Keluar dengan keadaan telanjang bulat. Sama sekali tak kuberi alas. Aku melangkah ke arah pintu, kupastikan bahwa kamar ini terkuci rapat.
Kubaringkan tubuh kurusku di atas ranjang. Kupejamkan mata. Dan tebak siapa yang muncul tiba-tiba? Tentu saja gadisku, Rumi. Gadis berdada montok dengan kulit sawo matang. Dada berukuran 36 B itu tiba-tiba melintas di dalam pikiranku. Senakal apa pikiran itu? Kurasa akan lebih nikmat jika hanya aku sendiri yang menikmatinya. Yang bisa kuceritakan hanyalah, tiba-tiba dia ada di atas badanku, menggeliat-geliatkan tubuh ranumnya di atas kemaluanku. Membuka selangkanganku, dan kuingat dia memainkan lidahnya di atasnya. Dia terus mempermainkan aku dengan tangannya. Katanya Blow job. Air itu mulai keluar bersamaan dengan lenguhan yang kuperdengarkan. Aku keenakan untuk sementara waktu, hanya berbeda tipis dengan waktu hormonku memuncak, dan membuat aku seakan berada di atas awang-awang, dan akhirnya memaksaku berucap ”aarrrrggghhh...”
Dadaku naik dan turun merasa kelelahan. Padahal hanya bayangan Rumi yang muncul, bukan badan aslinya. Kurasa lebih menggairahkan jika kemaluan kami benar-benar beradu di atas ranjang. Kutarik selimutku, kututupkan di atas badanku. Dan aku tertidur [22.03]

10.00 keesokannya..
Kuhampirkan tubuhku pada air dalam bak, kukeringkan badanku, dan kupilih pakaian yang dianggap orang-orang aneh [kali ini setelan kaus putih padat yang mempertontonkan lekuk tubuh kurusku, jeans legging yang kumasukkan dalam sepatu boot,  big belt cokelat yang kusampirkan pada kaus adidasku, dan tentu sepatu boot coklat Rotelli coffemix beraksen rimple. Tak lupa, tas selempang bermerk sama dengan  milik Rumi. Le  Sands. Dan tak beberapa lama, kuberangkatkan diriku ke sebuah tempat yang sama sekali tak memberiku cukup ilmu untuk kupamerkan pada orang-orang di sekelilingku. Harusnya aku dulu mengambil jurusan pengatur tata kehidupan moral orang tua, bukan jurusan hukum yang sama sekali tak kuminati.
Beberapa waktu setelah aku melangkah keluar dari rumah, kuparkirkan motorku di tempat yang telah disediakan.  Aku melangkah menuju ruang kelas. Dan..
Owg mai gat!!!
”Hai, Vin..”
Kutolehkan wajahku ke arah belakang..
”hhhaa...iii.!!1”
”keren gaya lo!!”
Hei, babe.. U’ve got wrong to say that! I’ll take you in five minutes…
“thanx..”
“kenalan?”
“boleh. Sapa lo?”
“Rumi..”
“oowwwgghh...” gaya kepura-puraan paling fundamental yang perlu ditunjukkan meski aku sudah mengenalnya..
“lo siapa?”
“panggil aja Vin...”
“gue bisa ngenalin lo dari gaya lo..”
“maksud lo?”
“ga usah banyak cing cong de lo.. lima menit lo bisa abis..”
Sial!! Apa maksud ni cewe? Dia bisa dengan baik ngebaca pikiran gue!
“maksud lo?”
“kita ini sama..”
“sama? Maksud lo apaan si?”
“Cuma lo yang ngliatin bokong gue sampe segitunya..”
“haaah?”
[sial! Malu abiet gue]
“gue tunggu lo ntar siang di kantin..”
Dia pergi sambil berlalu.. tanpa menoleh atau pun menyampaikan kata yang lebih panjang lagi.

14.05
”ga telat kan gue?”
”dikit.. nelat lima menit!”
”ngecek mens gue, bocor ato ga..”
“lagi ga bisa donk brarti? Kaya cewe aja lo..”
“maksud lo?”
Hahahahhahah...
“lo ga pengen  ngundang gue ke rumah lo?”
“boleh kalo lo mau.. tumben?”
“boleh ga?”
“boleh aja.. sekarang?”
”bisa..”
”yuuk..”
”yuuk..”
15.19
”ini rumah lo?”
”iya.. kenapa emang?”
”sepi ya?”
”kapan pernah rame ni rumah? Nyokap ga pernah ada, ”kerja” terus, bokap ”terbang” terus”
”pilot?”
”iya kali..”
”mana kamar lo?”
”di atas. Yuk..”
Tak pernah sekali pun ada yang memasuki kamarku selain aku dan rokok-rokokku. Kecuali dia. Rumi. Aku bersandar di atas kursi kesayanganku. Dan dia melempar tasnya ke arah lantai, jongkok, dan mencari rokoknya. Sedangkan aku hanya tinggal mengambil rokok yang telah siap disulut di tepi jendela penopang kakiku. Puntungan itu sama-sama tersulut. Dia dengan Djarumnya. Dan aku dengan Samsuku. Ffffffiiiuuuhhhh... sembulan asap sama-sama keluar dari mulut kami.
”gue tertarik sama lo, Vin..”
”thanx.. kenapa emang?”
”lo junkie.. keren aja..”
”Cuma itu?”
Dia berjalan mendekat, mencoba mendekapku dari belakang, bibirnya hanya selisih dua mili dari ujung telingaku. Mencoba berbisik
”ga donk.. ”
Aku mencoba tenang.. bibirnya masih terus mencoba bermain di atas telingaku, namun aku masih mencoba untuk tenang.
”trus?”
”gue suka ini...”
Dalam bahasa tangannya, ini sama dengan buah dadaku yang berada satu nomor di bawahnya 34 B. Sekali lagi berkata
”gue suka ini, Davina..”
Anjrrriiiiittt!!! Tangan yang tak lagi memegang puntungan rokok Djarum terus menggerayangi badanku, terutama melumat habis payudaraku. Dan aku, tentu saja menikmatinya. Aku bukan gadis bodoh yang hanya bisa diam jika payudaranya diremas-remas sedemikian rupa itu. Tentu saja, kucondongkan badanku, kumatikan sisa rokok yang belum sempat kuhisap dua kali. Kubalikkan badanku, dan kubalas segala perbuatannya.
Kami saling beradu mulut, saling menarik kaus yang kami kenakan. Dan saling mendahului membuka kutang yang kami kenakan. Wow! Dadanya benar-benar patut dipuja! Tak jauh berbeda dengan milikku. Hanya berbeda nomor dan warna kulit saja. Dia sawo matang dan aku putih. Tangannya terus bermain di atas payudaraku. Dan tak puas dengan mulutku, mulutnya terus berdikari di atas telinga, leher, dan akhirnya mengulum payudaraku.
”arrrggghhh, arrrggghhh...” kami melenguh-lenguh keenakan..
Tanganku terus mencari tempat lain. Mencoba membuka celananya. Dan dia juga. Mencoba membuka celanaku. Tanpa membutuhkan waktu lama, tubuh kami telah berada di atas ranjang ukuran sedang milikku. Tanpa waktu lama, kami telah bertelanjang tubuh. Tanpa waktu lama, kami saling mengadukan kemaluan kami. Lenguhan terus dipersuarakan saat itu. Tanpa waktu lama- lagi dan lagi-, kami berpindah posisi. Saling memainkan jari-jari kami di dalam kemaluan lawan main kami. Dan terus saja, kami melenguh. Bergantian memainkan lidah kami di dalam kemaluan. Dan hingga akhirnya kami bersamaan mengeluarkan cairan kepuasan nafsu kami. Dan akhirnya lagi, kami kelelahan. Mencoba berbaring dan berpelukan satu sama lain. Saling tersenyum..
good job, babe..”
”I Love You..”
Dan kami pun tertidur kelelahan..
Tok tok tok..
Siapa itu? Menganggu saja!!
”Vin, makan dulu!”
Aku tetap tak menggubris, suara itu terus saja menggangguku dan kekasihku, Rumi.
”Vin..”
”Davinaaa.. makan, nak!”
Tok tok tok tok..
Tak ada suara lagi. Jauh di dalam pikiranku, aku berkata
”Seandainya kau berpikiran waras saat ini, mungkin aku bisa keluar untuk makan sambal bawang dan bercerita padamu bahwa aku menyukai Rumi, sesama jenisku. Jika saja kau tak terlalu banyak ”bekerja”, Ma”
Kupeluk erat badan Rumi. Tertidur pulas dalam kebohongan yang tak pernah sanggup untuk kami ungkapkan. Mencoba meninggalkan kesesakan yang dibuat oleh onggokan daging busuk itu.

Salamku,
Davina Untara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar