Selasa, 30 November 2010

..I Like It..If Smile Doesn't Come Yet..

Bersua dengan Rindu..

Mulutku bergantian ternganga dan terkatub manis, selembut sutra penutup kemaluan..
Berkata dan tertawa, bermanis diri menepis kegalauan Rindu..
Di mana tanah basah terhampar merintangi
Di mana hujan dan kemarau bercengkerama meronta turun terlebih dahulu
Di mana hati tak lagi bisa bersua dengan cinta
Di situ pangkuanku tertunduk menyerah dan pasrah..
Tanpa kata dan tawa...

Aku Bisa..

Mataku menatap ke depan,
searah dengan halauan kaki yang terpancang kehidupan..
Hidungku tertarik nafas bau,
selambar garis berjangkau dengan arah mata..
Mulutku tertutup rapat,
beruji kesetiaan, tak pernah berbagi kepedihan pada kaki yang terinjak..
Telingaku menggangguk mengerti,
saling beradu pandang mengatubkan cuping, seakan tak terjadi suatu apa pun..
Dengan begitu, hati pun turut bersungging berkata “kau bisa...”

Berakhir dengan An..

Pakaianku terlucuti oleh perih kehidupan..
Aku menangis mengerang memohon ampunan..
Tak pernah disampaikan padaku bahwa si hidup tak memeluk iman..
Dia kejam dan tak ingin tunduk pada kegalauan..
Menerjang bertandaskan impian..
Hanya ini yang disampaikan..
Hidup itu memedihkan, namun tak tergantikan..

Bumi itu Indah.. Dahulu..

Hijau itu meluntur, beradu bertarung, lebur menjadi satu warna tangis..
Putih itu menghitam, mencari paduan persik pewarna jingga dan petang..
Cokelat itu merekah dan terkoyak, menjerit di telusur kehidupan..
Biru itu meninggi, melahap hijau dan cokelat, tanpa arahan si putih..
Berpadu dan mencari yang berteriak ”aku menyerah..”


Karya ini kusampaikan bukan karena aku ingin mempertunjukkannya padamu. Mereka ada karena hatiku yang meminta, seperti adanya hidup yang terus berjalan dan tertatih mencari selusur senyum dan kedamaian. Laiknya burung yang mengayun sayap mencari padanan sinar mentari untuk mencari jalan pulangnya, seperti itulah aku dan hidupku. Tegak bersandar pada yang empunya hidup, memohon berpulang dengan keadaan tak tercemar. Impian dan cita yang tak kunjung terobati membuat aku harus tertatih memeluk asa. Musik yang terus mengalun membuat aku bisa tetap berdiri dan mengucap syukur. Kadang aku menangis dan terhempas, namun semua tetap mengingini senyumku merekah dan berkembang menantang ombak yang ditawarkan. Dengan begitu, aku masih bisa berjalan meski sambil merangkak, demi senyumku pada kalian. Terima kasih..


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar