Rabu, 23 November 2011

Sesuuuatuu Bangggeeett Deeeehh...!!!

Bagaimana pun, bagi setiap orang, hari ini adalah hari terbesar dalam hidupnya (selain hari ulang tahunnya, selain hari di mana dia dirampok, selain dia jatuh sakit, selain hari di mana ia ditinggalkan oleh orang yang disayanginya, selain hari di mana dia melakukan hal-hal yang dianggapnya luar biasa). Tapi tidak bagiku.

Hari ini adalah hari di mana alisku harus dicukur sedemikian rupa, agar katanya aku bisa tampil lebih menawan. Hari ini adalah hari di mana orang tuaku datang dan membuat hidupku jauh lebih kontroversial. Hari ini adalah hari di mana aku harus percaya bahwa lima tahun masa studiku hanyalah berakhir di atas pengakuan sebuah kertas. Hari ini adalah hari di mana aku harus merasa kepanasan dan berkeringat terus menerus. Hari ini adalah hari di mana aku duduk, dan mengantuk, menunggu namaku dipanggil oleh Master of Ceremonial.

Akan kuganti “hari ini” dengan kata wisuda.

Aku tidak tahu apa yang membuat hari ini dijadikan sebagai sebuah hari besar yang patut untuk dirayakan. Begitu ironis kupikir, jutaan sarjana muda terlontar ke sana dan ke mari. Hanya dalam satu hari mereka mengumbar uang dan senyum hanya untuk menggeser tali di atas samirnya. Satu hari berikutnya, mereka akan sibuk membagi kepedihan satu sama lain. Berusaha dan berjuang untuk mendapat sedikit cercah harapan.

Apa hanya aku saja yang tidak pernah merasa bingung? Wajarkah adanya diriku? Ketika semua asyik berpikir bahwa mencari pekerjaan adalah hal yang paling penting, aku justru tetap berkutat pada pemikiran bahwa aku belum siap untuk dijadikan pekerja. Aku lebih siap untuk menerima kenyataan bahwa aku masih harus banyak belajar. Meski pun aku sadar, dan sangat sadar bahwa aku memang membutuhkan apa yang dinamakan uang.

23 tahun aku hidup, aku bukan orang yang repot dengan apa yang dinamakan uang. Jika ada, aku akan sangat bersyukur. Jika tidak ada, aku percaya mereka akan jatuh ke tangan pemiliknya. Aku sangat percaya diri dalam hal ini. Aku berpikir, bahwa tanggung jawabku tidak bisa diukur dengan seberapa banyak uang yang kuhasilkan. Okelah, mungkin uang pada akhirnya akan berpengaruh pada status kita di masyarakat. Tapi untuk mencapai dan mendapatkannya? Belajar. Hanya dari proses pembelajaran aku bisa hidup.

Pemikiran yang sangat sederhana.. Dan sedikit tidak masuk akal.

Apa rencanamu setelah ini, Riel?

Pertanyaan yang sulit kujawab. Hanya tiga mimpi besar yang bisa kusampaikan jika aku ditanya demikian itu.

Kamu tidak tahu mau melakukan apa?

Bukan tidak tahu.

Tapi?

Tidak ada tapi. Kau tidak tahu bahwa aku telah menolak tiga pekerjaan hingga saat ini? Tiga!! Padahal semua lulusan muda akan sangat senang jika ditawari hal semacam itu.

Mengapa kau tidak mau menerimanya?

Karena aku tahu, aku masih ingin belajar hal lain. Sebentar saja. Berikan aku waktu untuk benar-benar tahu mau kulangkahkan kakiku ke arah mana. Aku tidak ingin gegabah menerima semua pekerjaan yang ditawarkan padaku.

Kusampaikan dengan cara yang baik pada ibuku. Dan dia dengan berlapang dada mau menerimanya.

Terima kasih untuk itu.

Aku tidak akan berlama-lama berpikir, Ma. Aku tahu kau begitu mengharapkan anakmu menjadi seorang yang berada di belakang meja dan menggunakan pakaian rapi.

Tapi tidak kali ini. Aku akan berusaha mengejar semua mimpiku. Dari nol. Dan aku tahu, pada akhirnya aku bisa mencapai kesemuanya. Tenanglah.

Dan untuk para pekerja kampus, terima kasih karena telah membuat kami harus berpanas-panas ria di bawah matahari dan ruangan tanpa AC.

Beginilah namaku saat ini: Martina Ariel, S.I.P (sip buat apa aja deeeeh)...

Selasa, 20 September 2011

Kau Lelah?

Bahkan ketika kau tidak lagi mampu untuk berjalan seorang diri, kau bertandang ke dalam pelukanku. Seakan ingin berkata “aku lelah”. Tidak mengapa kupikir. Untuk kesekian kalinya aku melihat mukanya begitu letih dengan apa yang dinamakan dengan kehidupan. Kau terbaring melemah, mendengkur, dan sejenak lupa akan kepenatanmu. Datanglah ke mari, datanglah mengahampiriku. Hanya itu yang bisa kuberikan. Senyum dan tawa yang kau sukai. Sebaris kata penyanggah yang selalu membuatmu bertanya “mengapa kau tidak mengatakan iya untuk sekali waktu?”

Entah di dalam sana kau terpekur dengan apa atau siapa. Aku tidak peduli dengan semua itu. Kau tetap tertidur pulas, meski kadang kau terbangun, terkejut karena gerakan kecilku. Matamu memerah, dan pandanganmu tetap tak terfokus pada apa yang ada di hadapanmu. Dan kau kembali tidur.

Kau tahu apa yang terjadi ketika kau memutuskan untuk terlelap? Mukamu akan tampak sangat buruk, dengan bibir yang sedikit menganga, dan kau tidak akan pernah sadar jika kehidupan lain yang menantimu di luar sana.

Ada bagian yang kusuka ketika kau tertidur. Ragamu akan terlepas dari apa yang dinamakan lelah, dan untuk sejenak kau akan terhenyak dari apa yang kau namakan masalah.

Tidurlah..

Dan ketika kau terbangun, aku akan ada di sini. Tetap tersenyum, dan mengucapkan “selamat datang kembali pada kehidupan”.

Balada Tai Kucing

Tai : Kamu kenapa kucing? Kok bicara-bicara sendiri? Mulai gila ya?

Kucing : Ah! Siapa yang bilang aku bicara sendiri?

Tai: Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Kamu jangan bohong!

Kucing: Bagaimana kamu bisa melihat? Sejak kapan kamu diberi mata? Baumu saja sudah
membutakan.

Tai: Ini kan juga gara-gara kamu! Apa yang kamu makan sehingga aku jadi begini?

Kucing: Apa sajalah. Yang penting aku bisa hidup, kan?

Tai: Hei! Aku tadi kan bertanya padamu. Mengapa kau bicara sendiri seperti itu?

Kucing: Kan sudah aku katakan. Aku tidak merasa berbicara sendiri.

Tai: Lantas?

Kucing: Aku mendudukkan tiga badut ini di hadapanku. Kudandani badut-badut itu. Yang satu berkacamata agak ke bawah, memakai celana jauh di atas pusar. Anggap saja dia laki-laki. Yang kedua kuberi jenis kelamin wanita. Dandanannya menor, roknya di atas paha, dan kusumpalkan rokok di mulutnya. Dan yang terakhir berjenis kelamin laki-laki. Kuberi tampilan paling baik dari kedua badut tadi.

Tai: Untuk apa kau lakukan itu semua?

Kucing: Untuk menghindari pertanyaanmu tadi tentu saja. Aku tidak bicara sendiri. Aku bicara pada badut-badut itu.

Tai: Apa yang kau bicarakan pada mereka?

Kucing: Sedikit masalah hidup saja.

Tai: Apakah aku bisa mengatakan bahwa kau akan bertemu muka dengan ketiga badut itu?

Kucing: Yah, bisa kau bilang begitu.

Tai: Kapan kau akan bertemu dengan mereka dan membicarakan masalah hidup itu?

Kucing: 3 hari dari sekarang.

Tai: Jadi, inti dari monologmu adalah persiapanmu?

Kucing: Sssstttt!!! Jangan bilang pada siapa-siapa. Aku mendadak menjadi seperti orang gila. Ah, tidak-tidak. Anggap saja aku sedang berlatih teater. Memunculkan suara-suara dan kemungkinan-kemungkinan kecil yang akan terjadi. Aku pintar ketika menirukan ketiga badut itu.

Tai: Begitu yakinnya kau dengan dirimu?

Kucing: Harus!

Tai: Mengapa sebegitu yakinnya kamu?

Kucing: Karena aku yang membuat cerita yang ingin kusampaikan pada ketiga badut ini.

Tai: Lantas? Mengapa dirimu harus berlatih jika sudah yakin?

Kucing: Karena aku ingin memastikan bahwa ketiganya akan tersenyum ketika mendengarkan aku bercerita nanti.

Tai: Apakah dalam latihanmu kau buat mereka tersenyum?

Kucing: Tentu saja tidak. Dengan begitu, aku bisa membuat ekspresi mukaku semakin melonjak pada ranah percaya diri.

Tai: Aku boleh ikut menemui ketiga badut itu? Aku ingin melihatmu bercerita.

Kucing: Tidak usah. Nanti aku sakit perut, dan jumlahmu akan semakin banyak.

Tai: Ah! Tadi katamu sudah siap? Sakit perut itu kan pertanda psikologis bahwa kau gugup.

Kucing: Wajar saja, kan?

Tai: Berlatihlah lagi hingga kau benar-benar siap dan tidak memikirkan yang tidak seharusnya kau pikirkan.

Kucing: Hmmmm.. Begitu ya?

Tai: Aku mengenalmu, kucing!

Minggu, 18 September 2011

...........

Musik itu bertalun merdu, tidak pekak, dan tidak sumbang. Iramanya pas, tepat memasuki setiap sela cuping telingaku. Membuat otakku terusik untuk merancang sebuah irama baru yang kucoba untuk dimasukkan dalam tiap baris kata yang ada.

Sekelilingku gelap, tapi aku tidak buta.
Sebarisanku menjadi sedikit sama, tapi tidak seirama, hanya berjalan pada arah yang berbeda.

Aku menyadari, bahwa apa yang telah dibuat dan dirancang tidak begitu mudah untuk diakui menjadi hak milik kita.

Sekelilingku terang, dan aku mulai menutup mata.

Sebarisanku mulai mencari cara untuk berjalan pada langkah yang beriringan.
Aku menyadari, bahwa apa yang telah dibuat dan dirancang begitu sulit untuk dijadikan bagian dalam diri kita.

Darah di dalam nadiku terus bergerak, mencoba untuk memberiku peringatan bahwa aku tidak bisa diam.

Jika darah itu bergerak, maka akan ada kata lain yang disebut dengan nafas.
Dan jika nafas itu berhembus, maka akan ada rambu lain yang menyatakan bahwa aku harus tetap berdiri.

Dipaksa untuk mengerti bahwa yang lainnya juga masih berjalan.
Entah sendiri, berpasangan, berteman, bergandengan, berkonflik, bertengkar, berdamai, atau tetap bergulat pada sebuah masa, di mana tidak ada lagi kerinduan untuk mencoba sesuatu yang baru.

Ada kehampaan dan sedikit kekosongan yang mencoba mengisi ruang dalam diriku. Aku sampai pada titik yang mendorongku untuk terjun pada suatu keadaan yang menjepit.
Aku bimbang, bingung, dan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk memulai segala sesuatunya.

Aku mulai meracau.

Bergegas mencari padanan hidup itu ternyata sulit. Aku harus memulainya dari keberpijakan yang semu. Meraba-raba, dan tidak ada yang membantuku untuk mengatakan “iya..”. Anggap saja aku mulai sendiri, termakan oleh pikiranku sendiri.

Aku melemah.

Musik ini tidak bisa menolongku. Aku tetap tidak beranjak dari kehampaan yang tidak kuhadirkan di hadapan orang lain.

Aku ingin berteriak, melepas segala ketakutanku. Ketakutan yang belum tentu terjadi, dan hanya akumulasi dari apa yang kupikirkan.

Dan aku merasa menjadi makhluk bodoh yang tetap mengikuti kebodohanku.

Rabu, 14 September 2011

Seandainya Jika dan Kalau..

Seandainya, dan hanya jika aku berani bertanya tentang apa pun itu. Tapi sayang, tidak ada sedikit pun keberanian untuk melakukannya.

Seharusnya tidak pantas kalau aku menggunakan kata-kata “jika”, “kalau”, atau apa pun yang berdekatan dengan sinonimnya. Karena itu tandanya, aku tidak suka dengan beberapa kejadian dalam hidupku. Dalam rumusan matematika, bisa dianalogikan seperti ini:

Kalau saja aku putih.

Yang menciptakan putih adalah Dia.

Aku tidak suka dengan putih, sama artinya aku tidak suka dengan caraNya mendandaniku.

Sama saja dengan tiap keadaan dalam hidupku. Kalau saja, seandainya, semuanya bisa sejalan dengan apa yang kupikirkan. Entah jadi apa nantinya?

Aku yakin jika pada awalnya, pada akhirnya, dan pada umumnya, semua tidak akan sesuai dengan apa yang diberikan pada kita. Selalu saja ada pembantahan yang kadang harus dibenarkan oleh kita yang menjalaninya. Jika pada akhirnya tidak sesuai dengan harapan atau pun estimasi dari apa yang dipikirkan oleh pikiran kita, selalu saja ada pelontaran yang biasanya dikenal dengan nama keluhan.

Hhhhh..

Begitu biasanya suaranya diperdengarkan. Lirih, dan sering kali mengganggu beberapa kinerja yang telah disepakati sebelumnya. Pada saat itu, kita terjerembab pada satu titik yang membuat langkah terhenti. Merasa lelah, dan tidak ingin berbuat apa pun. Merasa kacau dengan situasi yang tidak mendukung, dan mulai melontarkan berbagai macam alasan untuk membenarkan bahwa keadaan tidak berjalan dengan baik.
Itu kan hanya pembenaran saja sebenarnya.

Apa yang sebenarnya diharapkan dari sebuah kehidupan? Selalu berbahagia dan mendapat apa yang kita inginkan? Betapa mudahnya jika semua yang kita inginkan akan kita dapatkan tanpa usaha yang maksimal. Boleh saja berandai-andai bahwa suatu saat nanti, Gunung Kilimanjaro akan menjadi hak milikku. Boleh saja aku berangan untuk menjadi gadis putih, berhidung mancung, dan selalu dipandang pintar oleh kaum adam. Andaikan saja aku tidak tinggi, mungkin saja aku bisa menikmati perjalanan jika aku harus naik bus pariwisata (karena kakiku tidak akan terlipat pasrah di antara badanku dan kursi di depanku). Andaikan saja aku lahir dari keluarga yang kaya raya (ini adalah harapan muluk setiap orang yang menggangap bahwa semua akan menjadi lebih menarik dan indah jika dijalani dengan uang), mungkin aku tidak akan duduk di sini. Aku pasti sedang duduk di atas bangku helikopter yang membawaku berkeliling di atas udara untuk sekedar memandangi pepohonan yang semakin berkurang jumlahnya. Mungkin saja semua itu terjadi.

Namun bedakan antara mimpi dan sebuah harapan yang tidak seharusnya melawan kodrat yang telah digariskan.

Jika hidup begitu mudah, aku tidak akan bertemu dengan orang-orang yang berebutan membagi kisah hidupnya padaku. Jika hidup bisa dihubungkan dengan mudah oleh perkataan “seandainya begini”, “jika saja”, “kalau aku..”, aku yakin, tidak akan ada warna hidup yang menarik untuk ditonton. Tidak akan ada yang menangis. Karena tidak ada yang menangis, maka tidak akan ada yang beranjak dewasa. Dan semuanya akan tampak sama, monoton. Semua tampil sempurna.

Pertanyaan yang kugubah dan kusadur untuk mempertanyakan apa yang tidak seharusnya kumiliki membuat aku tersadar, bahwa apa yang ingin kumiliki harus kuusahakan. Hanya itu satu-satunya cara membuat semua pengandaian itu menjadi nyata. Meski pada akhirnya, aku hanya bisa mempertanyakan itu pada orang yang belum bisa memberikan jawaban pasti. Tapi aku yakin, proses tersebut membuat aku percaya bahwa hidup diciptakan untuk merealisasikan semua khayalan, bukan hanya berjalan lurus, tegak, dan tidak mengambil resiko apa pun.

Selasa, 13 September 2011

Rumahku, Republikku (mu)...

Sebuah pesan singkat yang sama sekali tidak kunyana bisa keluar dari bibir ayahku. Seorang pendiam yang sama sekali tidak pernah memberikan wejangan, bahkan ketika anaknya harus berada dalam titik buruk dalam hidupnya.

“Siapa yang mau melarang kamu telanjang di rumahmu sendiri? Bahkan SBY pun bisa kamu usir dari rumahmu..”

Setelah itu dia diam.

Aku juga diam. Bola mataku sibuk berputar mengikuti gerakan tangannya menaikturunkan sangkar burung dan membawanya ke halaman belakang untuk dibersihkan. Sesekali ia mampir ke dapur untuk mengambil tempe yang baru digoreng ibuku.

Seharusnya pikiranku tidak hanya berhenti pada pemandangan biasa yang sering terjadi di dalam rumahku. Ayah dan ibuku sengaja merancang bentukan dapur dan halaman belakang untuk saling berhadapan. Hanya ada pembatas kaca bening di antaranya. Dari kaca itu, ibuku bisa tetap menggoreng, merebus, memotong, membuka lemari pendingin, atau apa pun itulah namanya sembari menanyakan hal-hal sepele pada bapakku yang asyik menyembur-nyembur makanan burung supaya kulit Cannary Set yang tidak dibutuhkan bisa jatuh. Aku melewatkan poin penting apa yang dimaksud oleh si Bapak. Mengapa dia menyebutkan nama SBY (dia tidak terlalu baik untuk bisa memasuki rumah kami. Aku yakin ibuku akan luar biasa terkejut ketika melihat mobil-mobil patroli berbaris mulai dari depan rumah kami hingga sungai yang melintas di ujung jalan. “Pah,Pah. Opo kui? Ono opo to, Pa?” Dan orang-orang yang berdiam di rumahku tidak ada yang menyukai kegiatan ingin tahu ibuku itu.)

Aku harus memajukan otakku untuk sedikit mengerti apa yang dimaksudkan olehnya, sehingga mulut si Bapak bisa mengeluarkan pesan tadi. Setelah menimbang-nimbang, pikiranku lari pada beberapa rumah di sekitaranku.

Tetangga sebelah kiri rumahku. Bangunannya tingkat, pagarnya berwarna merah (kalau belum berubah). Aku tidak tahu berapa luas tanahnya, aku rasa sama dengan rumahku, karena aku tinggal di kompleks perumahan. Tapi tetap saja, hingga sebesar ini, aku tidak tahu luas tanah dan bangunan rumahku menginjak angka berapa. Pun dengan bangunan tetanggaku itu. Di dalamnya dihuni empat orang. Ayah, Ibu, dan dua anak laki-laki. Aku ingat benar, nama anak yang pertama adalah Iril. Hanya beda satu huruf dengan namaku. Ibunya bilang, dia suka melihat tingkahku waktu aku kecil, maka dipakailah namaku untuk anaknya (meskipun sedikit berbeda, namun ia tetap menggunakan sebagian dari namaku dan mengganti huruf depannya, karena dia baru sadar bahwa aku ini adalah perempuan, bukan seperti anaknya yang berkelamin lelaki).

Dan nama anak yang kedua adalah Raka. Sekarang keduanya telah beranjak besar, dan tidak lagi suka membuka semua pakaiannya kemudian lari-lari di dalam rumahnya. Biasanya mereka melakukan ritual pemanggilan namaku dengan adegan telanjang itu. “Mbak Ariel, main yuuuk...” . Mereka akan selalu melakukan hal yang sama ketika sore. Berdiri di pembatas rumah kami sambil berteriak-teriak mengajakku bermain bersama mereka. Aku heran, apakah mereka tidak berpikir bahwa yang diajaknya bermain adalah remaja SMA yang tidak selayaknya diajak bermain dengan anak kelas 5 dan 2 SD yang berlari-larian di dalam rumahnya sambil telanjang?

Bergeser pada tetangga sebelah kananku. Rumahnya juga tingkat. Dihuni oleh banyak orang, dan sekarang lebih banyak lagi. Dulu waktu aku kecil, masih ada Buyut, Bu Bambang, dan tiga orang anaknya yang sudah dewasa. Sekarang, tiga anak dewasa itu menghasilkan dua orang cucu dari tiap-tiap individunya. Jadi, total isi rumah itu adalah 12 orang, ditambah pasangan si tiga anak dewasa, dikurangi Buyut yang sudah meninggal.

Mereka adem ayem. Tidak pernah memanggilku dengan ritual telanjang atau hal-hal lain yang membuatku berpikir bahwa mereka adalah orang aneh. Hanya saja, yang membuatku heran adalah, betapa rapatnya rumah itu. Jendelanya tidak pernah dibuka. Dan selalu gelap. Waktu kecil dulu, aku tidak pernah mau dititipkan di dalam rumah itu jika ayah atau ibuku belum pulang. Di dalamnya gelap. Jika ada lampu pun, semuanya berwarna kuning temaram. Yang terang hanya taman di lantai paling atas. Aku tidak boleh menuju ke taman itu. Bu Bambang selalu bilang kalau aku akan jatuh dari atas sana jika aku berani naik di atasnya.

Dari kamera mataku, dua rumah, tiga bersama rumahku, ada benang merah yang bisa kuambil sama rata. Di rumah pertama, dua anak itu selalu berjalan dan berlarian dalam keadaan telanjang. Mereka tidak akan melakukan itu di luar pagar rumah mereka. Di rumah kedua, Bu Bambang bisa mengusirku dari taman yang dirawatnya (seharusnya dia bisa mengatakan bahwa “jangan dicabut ya daun atau bunganya”, bukan mengatakan aku akan jatuh ke lantai satu jika aku berani masuk ke taman itu).

Di rumahku, hingga kelas 4 SD, aku juga selalu memakai kaus dan celana dalam saja ketika pulang sekolah. Di rumahku, aku selalu mencabut bunga yang ditanam ibuku. Di rumahku, aku bisa mematung berjam-jam di dalam kamar mandi. Di rumahku, aku bisa tidur sampai mati. Semuanya bisa kulakukan di rumahku, tanpa harus pusing apakah orang lain akan marah padaku atau tidak.

Mungkin jika besok aku berhasil memiliki rumah sendiri, aku akan menaruh kuda cokelat besar di belakang rumahku. Membuat dapur seluas lapangan futsal. Menanam sedikit “daun segar” untuk kemudian dikeringkan. Membuat kolam di bawah rumahku. Atau bahkan mewujudkan mimpi si Bapak, bahwa SBY akan bertandang ke rumahku, dan aku bisa mempersilahkannya pergi.

Sesederhana penangkapanku akan kata-kata si Bapak. Aku merangkumnya menjadi sebuah mimpi dan motivasi bahwa aku bisa melakukan apa pun di dalam rumahku, bahkan ketika rumah itu dalam keadaan terburuknya, entah bocor, berukuran kecil, atau ada retakan di dindingnya.

Rumahku sendiri..

Sebuah rumah yang bisa kudapat dari mimpi yang kujadikan kenyataan.

Minggu, 04 September 2011

Mama Oke Punya..!!

Satu dari beberapa hal yang paling kusesalkan dalam hidupku adalah ketika aku menjadi anak baik-baik (di depan ibuku). Tidak seharusnya aku melakukannya. Menjadi sesosok yang berubah sedemikian rupa adalah satu hal yang tidak membuatku nyaman.

Mengapa demikian?

Begini. Ibuku. Dia adalah wanita (ya iyalah). Lahir 12 September 1954. Aku ga yakin apakah di tahun itu ia juga turut mengenal yang namanya minuman keras, rokok, bir,pulang pagi, atau apa pun itu yang dianggap tidak baik. Yang aku tahu, dia suka memamerkan apa yang dinamakan dengan wanita. Rok mini, sepatu hak tinggi, rambut sebokong, kaca mata besar, dan tas segede gambreng. Owalah, Ma. Kalau cuma kaya gitu aja aku juga bisa kaleee. Tapi aku tau malu lah ya, kulitku ga seoke punyamu.

Yang aku tahu, dia adalah orang yang memiliki cara terbaik untuk selalu membuatku kembali padanya. Cerewet? Dia sangat cerewet. Gemuk? Akhirnya dia mengalah pada berat badan yang tidak bisa lagi diatur. Ga penting? Dia suka menanyakan sesuatu yang ga penting. Beneran deh. Rasa ingin taunya luar biasa tinggi. Ia ingin selalu menjadi orang nomor satu yang tau gosip terhangat di kompleks perumahan kami (tapi herannya, dia ga pernah ikut nimbrung sama ibu-ibu perumahan itu). Ia harus selalu tahu apa yang kumakan tiap hari (dalam waktu lima tahun ini kan kita hidup terpisah). Ia akan selalu marah kalau berat badanku di bawah 55 kilogram. Ia akan selalu memaksaku untuk mencari barang-barang rumah tangga yang jauh lebih murah ketimbang di Malang. Ngeyel? Sampai detik ini, akhirnya aku baru tahu bakat ngeyelku itu turun itu dari siapa.

Selama kurang lebih tujuh belas tahun lamanya dia memandangiku, tahu setiap langkah yang kuambil, dan selalu mengerti apa yang kuperbuat. Dengan gaya konvensionalnya, dia berusaha menjadi seorang ibu yang harus selalu tahu tentang perkembangan anaknya. Kadang menyenangkan, namun dalam beberapa tahap perkembangan diriku, aku tidak merasakan kenyamanan ketika dia selalu berusaha membuat aku jengah dengan apa yang dikatakannya.

Lepas dari usia itu, aku beranjak menjauh dari hidupnya, mencoba cara lain untuk bertahan hidup di tanah orang. Hahahahahahahaha.. Ternyata kacau! Beberapa bulan pertama, aku selalu merindukan sapaan hangat “gimana tadi di sekolah, Nduk?”. Di Yogya, sama sekali tidak ada yang menanyakan keberadaanku, bahkan ketika aku hidup bersama dengan bibiku.

Karena bakat selalu ingin tahunya, ibuku akan selalu bertanya tentang hari-hariku. Dan dengan wajah Cinanya yang menjengkelkan, dia akan mendengarkan aku mengoceh ke sana ke mari (Mama, aku selalu bertanya dalam hati, kenapa mata sipitmu itu selalu membuat aku pengen njiwit? Mata itu harus dibesarkan sedikit, biar ga terkesan sinis). Dia tidak pernah menanggapi dengan baik sih. Ketika aku bercerita tentang guruku yang menjengkelkan, dia hanya mendengarkan sambil memotong tempe atau menggoreng empal. Ga tau dia dong atau enggak, tapi akhir dari pembicaraan kita selalu begini “yo wes, ganti baju, cuci tangan, cuci kaki, terus makan.” Njuk opo gunane crito?

* Ganti baju, cuci tangan, cuci kaki. Percaya atau tidak, aku masih mendengarkan dia berkata seperti itu ketika aku berusia 17 tahun.

Harus kuakui, bakat memasaknya luar biasa baik. Tangannya gemuk gempal, selalu terlihat pas ketika memegang daging ayam untuk ditumbuk. Bawang putih dan bawang merah akan selalu teriris rapi ketika pisau besarnya itu mulai bersuara tek tek tek tek, berirama, makin lama makin cepat (ga tau deh itu jarinya ikut kepotong atau enggak. Ngerti-ngerti udah abis, Ma?). Aku paling suka waktu dia masak oseng-oseng buncis pake daging giling. Rasanya pedes banggett. GGOOOODDD!! Enak banget rasanya

Dan yang paling kusukai dari dia adalah, dia tahu persis aku ga suka ikan. Jadi, minyak, alat-alat dapur, dan piring-piring yang sekiranya berbau atau bekas dipakai untuk mengolah ikan, tidak akan pernah didekatkan dengan piringku. Dia tidak akan pernah memakai wajan yang sama untuk menggoreng ikan dan tempe. Ikan itu akan ditaruh di piring terjelek yang dimilikinya, dan akan disembunyikan biar baunya ge menyebar. Sementara tempe gorengnya akan diletakkan di atas piring oval cantik, ditutup dengan tudung saji, atau dibuat sambel tempe. Ga ada yang ga enak deh masakannya. Semuanya, ENAK!

Namun sayang, dalam beberapa kesempatan, dia kehilangan sosok seorang Ariel yang ia kenal. Aku terlalu banyak dirubah oleh lingkungan baru yang kukenal. Sebenarnya aku sudah menunjukkan gejala pemberontakan dari jaman SMP, tapi hal ini sempat terendap karena masih ada yang mengawasi. Berhubung di Yogya pengawasan itu semakin mengendor, jadilah si Ariel berubah menjadi gadis bodoh yang mau-maunya bilang iya-iya aja untuk semua jenis kenakalan. Apa sih yang belum pernah kulakukan? Mmmm.. Kecuali penggunaan klenik dan sejenisnya, tampaknya semua jenis kenakalan remaja udah pernah kucoba. Tapi ya gitu, karena nakalnya ga total, makannya aku harus berubah menjadi malaikat ketika berada di depan ibuku.

Biasanya aku pulang ke Malang dua bulan sekali, dan dalam waktu dua minggu, aku berusaha menjadi anak gadis yang diidam-idamkannya. At least, dia bisa punya bahan menarik untuk diceritakan di depan ibu-ibu perumahan waktu aku pulang. “Anak saya udah mau skripsi. Anak saya di UGM. Anak saya tambah gemuk. Anak saya.. Anak saya..”. Ga mungkin waktu aku pulang, dia harus bercerita pada teman-temannya “Anak saya itu ga suka pulang malam, pagi terus pulangnya. Anak saya itu ga lulus-lulus. Anak saya itu kaya carok..”

Membuatnya berpikiran positif tentang apa yang kulakukan bukanlah hal yang mudah. Selalu ada saja alasan yang dibuatnya untuk menjegal argumenku. Bukannya aku kalah dan ga bisa berdebat, tapi ada baiknya ketika aku berusaha diam, dan mengambil celah untuk membuatnya terpaku dan akhirnya bisa berkata “anakku hebat..”, apa pun bentukku di depannya.

Maaf Mama, banyak hal yang kusimpan darimu semenjak kita berpisah. Aku tahu, kau masih menyukai bentukanku saat aku remaja, menurut dan selalu diam, tapi tidak bisa selamanya aku bisa menjadi gadis impianmu. Seperti saat pagi ini kau berkata padaku “Mama kok senengan kowe pas ndisik SMP si, Riel? Manutan. Saiki kowe ki ngeyelan.”. Aku hanya kembali tersenyum mendengarnya. Tidak berusaha memperdebatkannya. Mama, tidak ingatkah kau waktu aku lari dari rumah selama beberapa hari? Saat itu kau selalu beranggapan bahwa jika aku diam berarti aku menurut padamu. Tentu kau tidak ingin hal itu terulang lagi kan?

hhhmmmm...

Tapi terlepas dari itu semua, kau tetap mama yang oke.. Bahkan ketika kau luar biasa ngeyel..

Minggu, 24 Juli 2011

Sebut Aku DIRECTOR...

Tau iklan rokok (ga akan disebut namanya di sini) yang memakai jasa tiga orang laki-laki ditambah satu orang jin ala kadarnya itu? Kalau ga salah settingnya di pulau terpencil. Dengan alur cerita yang mungkin bisa disederhanakan menjadi seperti ini: mereka diberi kesempatan oleh si jin untuk menyebutkan tiga permintaan. Si A minta untuk dipulangkan, si B minta apa ya? Lupa. Anggep aja minta sesuatu yang akhirnya bikin dia ga ada di pulau itu lagi. Dan si C, karena dia merasa kesepian, maka dia meminta untuk mengembalikan A dan B ke pulau itu lagi. Oke. Coba tebak apa yang akan menjadi pembahasan kali ini. Kita urutkan menjadi poin-poin di bawah ini:

1. Jin ala kadar itu bisa dimaksimalkan dengan lampu mungkin? Atau setidaknya botol mungil biar sedikit menutupi kalau dia adalah benar-benar jin “Aladin” yang jasanya bisa dipakai untuk mengabulkan permintaan? Terlepas dari ide cerita yang disajikan, maka aku sebagai seorang penonton bisa seenaknya memberikan kritik yang tidak membangun.

2. Yang menjadi pertanyaan pokokku adalah, sekali lagi, terlepas dari kemauan si pembuat cerita iklan, kenapa permintaan itu tidak dimulai dengan kata “kami mau... bla bla bla (sebutkan permintaan)”. Ketika mereka menggunakan kata “aku mau... bla bla bla (dan akhirnya mereka menentukan keinginan masing- masing)”, maka yang didapat justru malah sesuatu yang merugikan.

Baiklah. Begini logika kasarnya. Anggap saja mereka adalah tiga orang yang “memutuskan” untuk pergi ke pulau terpencil itu. Mungkin latar belakang mereka sampai di tempat itu adalah karena mereka terdampar, atau kapal yang mereka naiki karam? (oke, ini tidak mungkin, karena jika kapal karam, maka yang ada di tempat itu bukan hanya mereka bertiga).

Atau mungkin mereka jatuh dari banana boat, kemudian mereka berenang ke pulau itu? (ini juga tidak masuk akal, karena supir banana boat pasti akan mencari mereka, atau paling tidak, ada empat orang di scene itu). Atau mungkin mereka sengaja dibuang oleh orang tua mereka, karena dianggap kurang memenuhi syarat sebagai “anak normal”? Atau apa ya?

Tidak akan selesai satu buku untuk menceritakan kemungkinan bodoh itu. Tapi satu poinnya, mereka adalah teman akrab, yang akhirnya mau berada di satu lokasi yang bisa kita anggap sebagai “lahan berbahaya”. Jika tidak, mereka pasti tidak akan mau melakukannya. Aku tidak akan mau berada di pulau terpencil itu bersama Raymond (teman masa TK, yang selalu jalan-jalan dan naik ayam-ayaman ketika teman-teman lainnya senam pagi, yang selalu menggeser lenganku dan menghabiskan sisa meja ketika kami diajari untuk tidur siang di kelas, dan yang selalu mengambil jatah sup merahku. Dia, yang selalu menjajahku waktu aku TK!). Dia bukan teman akrabku, maka aku tidak akan mau berada di pulau terpencil bersama dia.

Yang bisa kujadikan pilihan adalah, yang pertama, Desta. Hahahahahahahahahahaha... Gosh!! Dia bukan teman akrabku sih, tapi aku nge fans berat sama dia. Mimpi terbaik sepanjang masa adalah bisa membuat iklan jadi-jadian ini. Okelah, paling tidak, dia tidak akan memerdulikan siapa aku. Tapi dalam kasus pulau terpencil, aku bisa dengan mudah mencari celah untuk pura-pura kedinginan mungkin? Atau pura-pura dehidrasi dan tidak bisa berenang? Ngak ngak ngak ngak ngaaaak..

Yang kujadikan pilihan kedua.. Mmmmm.. Tidak ada!!! Hahahahahahahahhaha.. Aku maunya berdua sama Desta..

Tidak penting, terlalu panjang untuk sebuah pengandaian. kembali ke topik awalku. Yap, teman akrab. Sahabat. Karib. Sanak. Atau apa pun sebutannya. Ketiga laki-laki tadi. Seharusnya, menurut sudut pandang seorang sahabat karib, jika aku menjadi si A, aku tidak akan tega membuat permintaan “aku mau pulang”. Karena itu berarti, aku akan meninggalkan dua orang temanku di pulau itu, dan mungkin kosnsekuensi yang akan kudapat adalah, aku akan kehilangan mereka. Dan jika aku benar-benar bersama Desta, aku tidak akan mengatakan itu. Aku tentu akan mengatakan “He’s mine”.

Si B, karena aku lupa dia mengatakan apa, aku tidak bisa menuliskan komentar. Tapi yang jelas, dia juga tega meninggalkan satu temannya. Aku tidak tahu apa masalah si C, mungkin dia adalah sesosok orang yang menjengkelkan, dan kedua rekannya memang sengaja meninggalkan dia di tempat itu. Sungguh jahat. Aku juga pernah melakukan itu di jaman SMP. Aku pernah meninggalkan temanku dengan alasan sederhana. Karena dia bau badan. God! Mengerikan! Aku tidak bisa hidup bersamanya dengan bau badan seperti itu. Akhirnya aku menjauhinya perlahan. Sungguh jahat kalau ini. Maklum, masih SMP. Jadi gapapa.

Tapi si C sungguh pintar. Dia tidak mau kehilangan teman-temannya, jadi dia meminta “kembalikan teman-temanku”. Itu pasti yang akan kulakukan ketika Desta menolakku mentah-mentah waktu aku “menembaknya” lewat bantuan jin.

Ariel : Buat dia jadi milikku.

Desta : Tidak! Pulangkan dia!

Ariel : Kembalikan dia ke sini!

Tiga permintaan terkabul, dan Desta akan tetap bersamaku. Kikikikikikikiki..

Aneh. Sunggguh aneh. Jika aku menjadi mereka, aku tidak akan mengatakan “aku”. Ingat. Kita harus belajar memanfaatkan segala sesuatunya dengan baik. Dua, jangan terlalu egois. Kita pernah belajar bahasa Indonesia, dan kata aku, bisa kita ganti dengan kami. Apa yang terjadi ketika permintaan itu ditulis menjadi seperti ini :
“Kami ingin pulang” (satu permintaan). Mereka masih memiliki dua sisa permintaan. Tidak pelu diucapkan oleh satu orang, kan? Mungkin untuk permintaan kedua mereka bisa minta “Ariel dan Desta dipertemukan dalam pulau terpencil itu”? Dan mungkin, permintaan penutup bisa disajikan dengan permintaan besar mereka yang lain?

Aaaahhh.. Namanya manusia. Keakuannya terlalu tinggi. Ketika aku terlalu mengenal diriku sendiri, dan tidak mencoba memahami orang lain yang ada di sekelilingku, aku sama sekali tidak akan pernah menunduk, dan mencoba mengatakan “kita..”. Yang ada hanyalah, bagaimana membuat si aku menjadi bahagia, dengan atau tanpa “kamu”, “kita”, “kami” di sekitarku.

Sulit memang. Tapi perlu dipelajari. Mencoba menghilangkan aku, dan belajar mengenal dia, kamu, kalian, kita, atau apa pun itu. Cobalah. Kita (temasuk aku) sama-sama mencobanya.Desta juga mau ya? ngak ngak ngak ngaaaakkkk...

Fight for The Best,

And prepare for the worst...

Pernah mendengar sebaris judul digabung dengan satu kalimat di atas ini? Jika tidak, itu adalah salah satu kalimat yang aku sukai. Mempersiapkan untuk yang terburuk. Menyediakan beberapa rencana untuk mengatasi sesuatu. Jika semua rencana yang telah direncanakan gagal. Maka tetap saja, aku akan mengalami sesuatu yang dinamakan TERBURUK..

Aku tidak terlalu memikirkan judul yang kubuat. Karena bagiku, memberikan semangat untuk melakukan sesuatu jauh, jauh, dan jauh lebih mudah dari pada harus mempersiapkan diriku untuk menerima yang tidak kuinginkan.
Sama halnya dengan saat ini. Tidak terasa, tepat dua bulan aku mengerjakan skripsiku. Sebuah karya tulis, yang menurutku biasa saja, namun bisa mengantarku menuju barisan kursi di dalam Grha Sabha Pramana. Aku sangat paham dengan isi tulisan yang kubuat. Sebuah rangkaian singkat yang kulalui dalam hidupku, sebuah cerita yang kubuat dengan gaya bahasa yang sedikit ilmiah. Itu saja bedanya. Aku hanya menceritakan kisah hidupku sebenarnya. Aku mengeluh ketika membuatnya? Iya. Aku mengalami titik kebosanan dan kemalasan ketika aku kalah pada rasa kantuk? Tentu iya. Aku mengalami rasa suntuk ketika semua orang bertanya rangkaian cerita itu sampai di mana? Tidak ada yang menjawab tidak, termasuk aku.

Aku mencoba sesantai mungkin mengerjakannya. Tanpa sedikit pun tekanan. Aku bisa mengerjakannya satu minggu penuh tanpa istirahat yang cukup, namun aku juga butuh udara segar Bandung ketika aku mulai jenuh melihat berpuluh-puluh lembar tulisan itu menggelayut di depan mataku. Semuanya bermula dari nol. Nol puthul kalau kata orang Jawa. Tidak ada satu ide pun yang muncul. Tidak ada satu niatan yang utuh untuk memulai awal sekaligus akhiran untuk perkuliahanku. Aku sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya periklanan. Baris-baris iklan yang mengantongi kolom televisi itu akan mempertemukan aku dengan dosen muda (yang akhirnya diberhentikan oleh pihak kampus. Ngak ngak ngak. Akhirnya!! See yaaaa..). Aku juga tidak tertarik dengan dunia jurnalisme, karena aku pikir aku akan menghabiskan waktu yang lama untuk menemui dosen parlente yang akan membimbingku. Dia parlente dan sangat kuidolakan, sampai dia memberiku nilai D, karena AKU TIDAK MEMBELI BUKU TERBITANNYA. WHAT THE FUCK..?!?!?

Dua kali aku mengalami kejadian ini. Yang satu lagi mata kuliah Kewarganegaraan. Namaku tidak tercatat di daftar mahasiswa yang membeli buku norak tanpa isi yang dibuat oleh dosenku. Aku sudah memiliki niat cukup baik untuk mengcopy buku itu. Tapi ternyata, niatan itu terbayar dengan nilai C yang kudapat. Absenku penuh, aku mempelajari buku aneh itu, dan aku selalu mencatat materi yang disampaikannya. Aku pikir, aku bisa mendapat nilai A dengan sangat mudah. Sampai aku harus mengetahui bahwa status ujian kali itu adalah ujian terbuka. TERBUKA, yang artinya, semua jawaban bisa dilihat di buku mana pun. Dan betapa terkejutnya aku, ketika aku menyadari bahwa semua jawaban itu bisa langsung dipindahkan dari buku yang dikarangnya. Aku memikirkan cara paling sederhana untuk mendapat nilai A yang kuinginkan. Kutulis isi bukunya, dan kutambahi sedikit opini. Tapi ingat, buku yang kumiliki hanya hasil PHOTO COPY (bukan asli karangan dosen itu). Alhasil? Nilai terbaikku untuk pemahaman akan akhlak dan moralku sebagai bangsa Indonesia dinilai dengan huruf C bulat. Bagian fight ku kali ini dijegal dengan dua puluh lima ribu yang harus kukeluarkan untuk membeli buku tidak bermutu itu. Mulai paham dengan arti mempersiapkan yang terburuk?

Sekali lagi, aku tidak pernah terlalu memikirkan dengan cara apa aku bekerja. Sama seperti saat ini. Aku berjuang keras melawan rasa malasku untuk lulus. Dengan caraku tentunya, dengan ruang perpustakaan yang kadang ribut di siang hari, dengan AC nya yang kadang mati dan kadang hidup (dan percayalah, itu cukup membuatku pusing), dengan mata yang semakin sayu, dengan bir dingin, dengan rokok yang lebih banyak, dengan liburan ke Bandung dan beberapa aktivitas baru lainnya, dan dengan cukup banyak doa.

Sedikit informasi : hari ini aku berhasil menyelesaikan 96 halaman skripsi yang aku buat (belum termasuk daftar isi, lampiran, dan daftar pustaka. Mungkin jika ditambahkan, akan mencapai sekitar 100 lembar lebih). Tidak terlalu banyak untuk ukuran skripsi. Tapi cukuplah kurasa. Aku tidak mau membuang banyak waktuku untuk menambah rangkaian cerita ilmiah ini. Dan besok pagi, aku berencana membuat cetakan yang harus kutunjukkan pada dosen pembimbingku. Mudah-mudahan tidak ada revisi yang terlalu banyak.

Aku masih tidak percaya. Selesai! Aku masih tidak percaya aku bisa menuliskan kata SELESAI untuk hasil karyaku selama ini. Wauw !!! it’s WAUW..

Gila, bok!!!

Sebenarnya belum benar-benar selesai sih, karena skripsi itu belum dicetak dan diperbanyak untuk kubagikan pada beberapa pihak. Tapi sama aja lah menurutku. Aku merasa, aku berhasil!!!

Dengar??

AKU BERHASIL menyelesaikannya..

Tinggal tunggu cerita berikutnya.. Tentang bagaimana aku harus masuk ke dalam ruang sidang, dan aku harus menanti kapan aku diwisuda.

Atau hasil terburuk lainnya mungkin?

Who knows?

Kamis, 21 Juli 2011

Selamat Pagi, Duniaaaa..

21 Juli

Menunggu sebuah hari besar dalam hidupku ternyata biasa saja. Aku tak sadar, bahwa tiga jam terselang dari saat ini, aku berumur baru. Kuhabiskan waktu hari ini dengan sebuah perjalanan panjang menuju Yogyakarta, sebuah kota kecil, yang akan membawaku menuju awalan baru. Tidak terbersit dalam pikiranku bahwa esok adalah benar-benar hari besar. Bagi anak seusia balita, saat itu mungkin saat membahagiakan untuk mereka, di mana lemari mereka akan dipenuhi dengan pakaian-pakaian baru, di mana perut mereka akan terjejali dengan makanan-makanan asing yang jarang diasupkan dalam daftar gizi mereka, di mana semua bibir akan berebutan untuk menciumi setiap bagian tubuh yang bisa dicium, di mana serentetan doa akan terus tercurah di atas kepala mereka.

Sementara aku..

Aku hanya ingin menyematkan sedikit harapan, bahwa esok adalah hari indah, di mana langkah awal akan kuinjak, di mana tiap baris doa yang kusampaikan benar-benar berasal dari dalam hatiku..

Dan saat di mana SEMUA orang yang kusayang akan benar-benar hadir dalam hidupku..

And the day has come..

22 Juli

Satu hari paling kubenci dalam hidupku. Hari besar ini tiba-tiba datang, dan memang akan selalu begitu. Jika aku bisa membuat sebuah harapan, aku tidak ingin hari ini ada. Karena akan selalu sama setiap tahun. Selalu diawali dengan tangisan.
Aku masih ingat betul, di saat usiaku dua tahun, hari di mana pertama kalinya ulang tahunku dirayakan. Ayah dan Ibuku datang ke Tulungagung, kota di mana aku dibesarkan oleh nenekku hingga usiaku menginjak usia sekolah. Bayangkan! Dua tahun. Saat di mana ingatanku seperti sponge basah yang siap merekam kejadian apa pun dengan baik, bahkan sampai hari ini. Bisa dipastikan bahwa kejadian tersebut masuk dalam barisan kejadian yang tidak menyenangkan. Aku hanya duduk terdiam, tidak terlalu mengerti bahwa hari itu seharusnya aku tertawa dan bahagia, bukannya menangis dan merengek karena puluhan balon yang ditiup untukku tiba-tiba pecah dan membuat tangisanku tak berhenti.

Sesederhana balon, ditambah segaris lurus rangkaian ulang tahun yang tidak pernah kunikmati di mana bagian menyenangkannya. Aku masih ingat betul, saat teman-teman TK dan SD ku membagi-bagi coklat atau memberikan undangan makan bersama untuk kami, atau saat mereka diberi ucapan selamat sebesar papan tulis, atau saat teman-teman mereka memberikan kejutan luar biasa besar, hingga mereka bisa menghabiskan hari itu dengan senyum yang lebar dan puas.

22 Juli

Adalah hari di mana aku harus bangun, dan mempersiapkan diriku untuk dilupakan oleh banyak orang.

22 Juli
Adalah sebuah waktu di mana aku tidak pernah memiliki harapan yang patut untuk kusampaikan.

22 Juli

Adalah sebuah waktu, di mana aku selalu ingin menjadi orang yang paling bahagia di dunia, dengan cara yang paling sederhana sekali pun.

22 Juli

Adalah saat di mana ketabahanku diuji untuk kesekian kalinya. Aku ingat benar, bagaimana aku memulai hari ini, selalu, dan selalu, dengan titik tangis.

22 Juli

Aku tidak menyukai hari ini.. Dengan alasan apa pun yang melatarinya.

22 Juli 2011

07.10

Dalam diriku mengenal apa yang dinamakan dengan pasrah. Aku cukup bersyukur dilahirkan menjadi seseorang yang bisa menerima keadaan dengan amat baik. Dan aku cukup bahagia ketika aku terlahir menjadi seseorang yang bisa membuat segalanya tampak baik-baik saja dalam hitungan kejapan mata.
Bukan berarti ketika aku menjadikan hari ini sebagai hari yang tidak kusukai, aku juga harus menjadi seseorang yang tidak disukai oleh orang-orang di sekelilingku.

Jujur, ada kalanya aku ingin menjadi satu makhluk yang dibalik keberadaannya. Mungkin aku bisa menjadi seorang wanita yang lahir pada tanggal 25 Desember, di mana kelahirannya akan dirayakan dengan penuh syukur dan doa dari mulut banyak orang. Atau mungkin aku bisa menjadi seorang girl on the spot, di mana semua orang yang dimilikinya selalu ada untuk membuatnya tersenyum. Atau mungkin ini, atau mungkin itu, atau mungkin lainnya, dan aku yakin, kemungkinan yang aku sampaikan tiap tahunnya akan selalu sama, di mana aku selalu berharap bahwa pagi yang kujelang menjadi satu pagi yang dipenuhi oleh tawa. Namun yang terjadi adalah, aku tidak pernah mendapatkannya. Sama seperti hari ini.

Yah, apa boleh buat? Aku pikir, tidak ada hari yang diciptakan khusus untukku. Tidak ada orang-orang yang dikhususkan untuk mengingat siapa aku, atau kapan aku ingin bahagia. Hari ini hanya penanda, bahwa aku terus menjadi suatu raga yang bertambah tua, dan menjadi satu pribadi yang terus berkembang. Kebahagiaan itu bisa kuraih dengan caraku sendiri.

07.27

Membuat semuanya menjadi indah tidaklah mudah. Hari ini adalah awal baru dalam penghitungan 365 hari ke depan. Perjalanan itu kumulai, dan aku rasa aku harus memulainya dengan ucapan syukur, bahwa aku masih bisa menangis, itu artinya, kantung air mataku masih berfungsi dengan baik.

Aku yakin masih banyak orang yang sama sekali tidak pernah merasakan apa yang dinamakan dengan hari ulang tahun. Sepulu ribu orang di belahan dunia lain mungkin merasakan hal yang sama denganku. Mungkin mereka akan berkata bahwa hari ini adalah hari terburuk mereka (sama sepertiku), atau mungkin mereka akan mengatakan bahwa hari ini adalah hari terindah untuk dilalui. Mungkin saja, di Somalia, tidak ada sinyal handphone yang bisa memudahkan sanak atau orang tersayang mereka menyampaikan ucapan hari kelahiran ini. Pikiran terburukku bisa saja menjadi titik harapan untuk orang yang merayakan hari ulang tahunnya saat ini.

07.35

Jika aku terus berpusing memikirkan apa yang kuinginkan, mungkin semuanya akan terus berlalu dengan mudahnya. Kurasa, aku terlalu egois jika berhadap semua kinginanku akan terwujud hari ini. Siapa aku, yang bisa seenaknya merancang hari untuk bisa dilalui sesuai dengan pemikiran duniawiku?

Jika aku bisa menyederhanakan semuanya, aku akan meringkas hariku menjadi dua buah kata. TERIMA KASIH.

Untuk semua yang telah kualami 365 hari ke belakang. Untuk semua yang masih mengingat keberadaanku. Untuk semua tawa dan tangis. Untuk semua kesempatan. Untuk hari ini. Untuk yang mengizinkan aku menikmati hari ini (read as God).

07.38

...HAPPY BIRTHDAY to ME...

Syndrome Ibu Kota..?? Sewagu Dandanan Wadam..

Sape lo?

Lha njenengan sinten to?

Kok elo yang nanya?

Lha nggih wajar to nek kulo sing tanglet, wong sampeyan riyin sing tanglet kulo sinten oq..

Ngomong ape si lo?

Aneh to sampeyan niki. Mangkane to, ngomong sing apik. Ra nganggo boso aneh ngono kui.

Siapa yang salah?

Ada yang salah?

Atau keduanya benar?

Pasti keduanya tidak pernah belajar Bahasa Indonesia, kan?

Atau keduanya tertukar di dunia yang salah?
Yang satu beranjak menuju Jawa, dan yang satu bertolak menuju Jakarta (yang katanya kota labuhan semua mimpi?)?

Atau mungkin mereka bertemu di dalam kereta tua, dan mulai berbincang di Ngapak Zone (karena aku pikir, di daerah itu bokong penumpang mulai pegal, dan mereka mulai mengalah untuk mengajak lawan di depannya untuk bercengkerama)?

Atau mereka sengaja membuka jejaring sosial, kemudian memulai sebuah percakapan yang sulit dimengerti antar keduanya?

Pasti mereka berusaha saling mengerti apa yang dinamakan berkomunikasi dengan bahasa yang dinetralkan.

Pasti mereka masuk dalam taraf making an important point to make some great conversation. At least, they become to be a good listener for the other.

Lho? kok malah keminggris saiki?

Iya ni! Banyak gaya!

Kenapa emang? Ini kan cerita yang aku buat sedemikian rupa, biar kalian-kalian itu tidak bosan. Ga usah protes deh.

Aku belum selesai membuat pengandaian untuk kalian berdua. Begini logikanya, jika aku berusaha memasuki ketakutanku akan Jakarta dengan tulisan ini, maka aku akan menjadi si Jawa yang berusaha berinteraksi dengan bahasa yang lebih baik. Namun jika aku menjadi si Jakarta yang mulai bosan dengan kehidupannya di kota besar itu, maka aku akan berusaha membuat bahasaku lebih enak untuk didengar.

Ini momok yang harus kulunturkan. Dua puluh tiga tahun aku berputar-putar di sekitaran Jakarta. Bayangkan. Dua puluh tiga tahun. Okelah, lima tahun pertama aku tidak sadar bahwa aku berada sepenuhnya di bawah ketek Mama, dan tidak mungkin aku bilang sama dia, “Ma, aku ke Jakarta dong”. Dia pasti berteriak, dan membuangku ke got jika aku melakukannya. Lima tahun berikutnya, aku tidak pernah ditawari untuk berlibur ke sana. Dan aku sama sekali tidak pernah menanyakannya. Lima tahun kemudian, aku tidak pernah melewati masa remaja dengan berasumsi untuk menjadi anak band atau artis terkenal di Jakarta. Dan delapan tahun sisanya, aku hanya meliriknya dari atas kendaraan yang kunaiki. Hanya kulirik, dan tidak pernah terbersit sedikit pun bahwa aku akan menginjakkan kakiku di kota itu. Sama sekali tidak. Tidak sama sekali.

Kalian tahu lagi Sheila on 7 yang berjudul Tunggu Aku di Jakarta? God!! Itu lagu perih yang benar-benar membuat aku harus berpikir bahwa Jakarta adalah satu-satunya tempat yang bisa membuat orang bisa berkembang. Berkembang di sini dalam artian bahwa mereka bisa menjadi orang kaya, paling tidak dalam waktu dua tahun. Berkembang di sini juga bisa diartikan sebagai pengendalian rasa rindu jika salah satu dari dua sejoli berada di kota itu.

Ada apa dengan Jakarta? Apa karena di sana jual kerak telor? Apa karena di sana dijual pakaian dengan merek-merek ternama? Apa karena di sana ada Istana Negara? Apa karena di sana ada artis-artis dengan dandanan yang kadang lebay? Apa karena di sana ada “Gue” dan “Elo” (salah satu penanda anak gaul di mana pun)? Gila, untuk bagian ini, logat kental yang kumiliki tidak akan menjadikanku sebagai anak gaul sepanjang hidup. Untung aku sudah berusia 23 tahun. Jadi paling tidak, aku tidak akan diberi label “anak”.

Seumur hidup, aku tidak pernah melampaui kemampuan kakak perempuanku (kecuali untuk badan yang lebih langsing dan kaki yang lebih panjang). Bahkan, untuk urusan pergi ke Jakarta. Dia sudah berulang kali ke sana, dan dia tetap baik-baik saja. Aku? Hingga hari ini, aku belum memiliki keberanian untuk pergi ke sana. Bayanganku adalah, aku akan dibawa menuju daerah Kemang jika aku bertanya di mana itu Cikini. Bayangangku adalah, aku akan membayar harga 1 mangkok soto dengan nominal 10 mangkok soto di Malang atau Yogyakarta. Bayanganku lagi, aku akan mati kepanasan di dalam angkot, sementara aku bukanlah orang dengan kelenjar keringat yang normal. Tidak, tidak, tidak, tidak!!!! Bayanganku jauh lebih buruk dari kemacetan yang ada di sana.

Ini adalah cerminan rasa takut seorang anak Malang yang belum pernah sama sekali menuju Jakarta.

Lha terus piye, Mbak?

Iya ni. Geje..

Namanya juga sindrom ketakutan. Setidaknya, kalian baru pertama kali menemui orang yang benar-benar takut untuk menuju Jakarta kan? Itu cerita menarik yang bisa kalian ceritakan tauk! Sedikit memalukan sebenarnya, tapi emang bener.

Rabu, 20 Juli 2011

Jawining Ati

“Konon, mereka yang lahir pada hari ini cenderung bersifat jujur. Bahkan, mereka terkadang mungkin terlalu jujur, sebab mereka adalah tipe orang yang suka mengungkapkan pikiran mereka tanpa tedeng aling-aling! Mereka cukup teguh dengan pendirian mereka, tetapi sikap seperti ini terkadang juga menghambat kemampuan mereka untuk menerima orang lain secara apa adanya. Sebaiknya kita tidak memancing amarah mereka, karena mereka dapat bertindak ekstrim bila sedang naik darah. Meskipun demikian, mereka setia dan murah hati terhadap orang-orang yang dicintainya. Simpati mereka mudah timbul sehingga tidak keberatan untuk bertindak di luar jalur mereka untuk membantu teman atau bahkan orang asing.”

Itu adalah aku, menurut ramalan weton Jawa di kelahiran 22 Juli 1988. Dua hari lagi..

Menunggu saat hari lahirku bertambah adalah sesuatu yang rumit. Mencoba berbagi dengan waktu, dan mencoba bersahabat dengan dunia baru. Dua puluh tiga tahun, sebuah judul puitis untuk kelahiran nyawa baru dalam diriku.

Dua hari, dan segalanya akan berakhir menjadi baru. Kututup dua puluh dua tahun 363 hariku dengan sesuatu yang menyegarkan. Aku akan mencoba memastikan, bahwa hari itu adalah hari terbesar dalam hidupku..!!!

Kamis, 07 Juli 2011

REPOT SEMBILAN HARI TUJUH MALAM....!!!

Sebuah kisah, atau sebuah cerita yang kadang enggan kubagi adalah ketika aku harus berdiam diri dan tidak mengatakannya pada siapa pun. Dengan berbagai alasan, dengan berbagai pilihan, dengan berbagai keingingan yang terbendung, namun tetap tak bisa disampaikan. Ah, apalah artinya?

Cerita ini akan mulai berarti ketika aku harus menyampaikan kata maaf pada beberapa pihak. Cerita ini akan benar-benar dimulai, ketika semua mata membelalak di depanku. Tetap dengan kata-kata yang sama “HAH? Beneran, Riel?”

Dan saat itu aku hanya tetap diam, menunggu ada yang membantuku untuk menjawab semua pertanyaan konyol itu. Siapa? Siapa yang berkenan membantuku?

Aku berpikir untuk tidak terlalu lama meninggalkan jejak di kota panas ini. Semakin lama aku di sini, maka bau-bau cerita dan keterpendaman itu akan semakin menyeruak di permukaan.

Ih, WAUW.. Apaan si? Kayaknya seru banget ceritanya?

Ow ya iyalah..

Berkenan membagi?

Mana yang kau pilih untuk kuceritakan? Karena semua jawaban dari cerita hidupku itu akan berakhiran dengan kata yang sama. “HAH? Beneran, Riel?”

Kenapa bisa begitu?

Karena aku telah melakukan sebuah pilihan. Kamu pernah baca tulisanku yang berjudul E atau S? Itu yang kulakukan selama ini. Entah benar atau salah, tapi pada akhirnya aku telah membuat sebuah keputusan, jawaban dari beberapa pilihan. Dan aku tidak menyangka bahwa semua jawaban itu membuat beberapa orang, dan banyak orang lainnya terbelalak. Entah mereka terkejut, atau tersedak karena makanan yang dimasukkan dalam kerongkongannya (atau tenggorokan?).

Lalu? Kau mau menceritakan yang bagian mana?

Yang mana ya? BAGAIMANA DENGAN KUNJUNGAN DUA ORANG DARI BANDUNG?

Yang mana saja lah.. Terserah..

Baiklah..

Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai cerita ini. Tapi mau bagaimana lagi. Ada beberapa orang yang perlu tahu, bahwa kedatangan mereka membuat hidupku benar-benar berantakan.

Kamis, 30 Juni 2011

Aku, hanya aku yang mendapat kabar bahwa mereka akan datang ke Yogya (itu menurut Lukvi). Dan menurutnya juga, salah satu alasan terkuat mereka datang ke Yogya adalah untuk menemui Mbak Ariel. Dan hingga tulisan ini termuat, aku tidak mau memercayainya! Karena aku tetap menganggap, bahwa apa yang mereka inginkan adalah merasakan Sungai Elo, bukan bertemu muka Mbak Ariel yang semakin masam dan menciut ketika melihat mereka datang.

Kujelaskan terlebih dahulu. Mereka= dua orang anak Kapinis. Berinisial I (baca saja Indra), dan W (cukup kau baca dengan Wisnu). Kedua anak ini (kusebut anak, karena mereka belum menginjak usia 20 tahun. Dan aku tetap tidak terima pada pernyataan Lukvi, bahwa mereka sudah mengenal yang namanya mengejar mbak-mbak di usia semacam itu) memberi kabar bahwa mereka membulatkan tekat untuk datang ke Yogya.

“Kita ga mau merepotkan Mbak Ariel sama yang lainnya di sana.”

Dalam bayanganku, kata merepotkan di atas dapat diasosiasikan dengan bertemu, makan bersama, dan pergi bersama.

Kalian laki-laki. Dan seharusnya, modal utama laki-laki itu terletak pada tulang di lidahnya. Karena kalian belum cukup umur, maka kuberi tahu ya. Lidah itu memang tak bertulang, jadi wajar jika kalian tetap melakukan hal-hal yang cukup membuatku repot beberapa hari (dan jauh berhari-hari kemudian). AKU MARAH!!!!!!

Seharusnya, ketika kalian benar-benar menginginkan untuk datang ke Yogya dan tidak merepotkan siapa pun, maka kalian tidak perlu menghubungi siapa pun, termasuk aku. Oke? Itu poin pertama yang harus kalian pahami mengenai kata “merepotkan”.

Kedua, aku tidak tahu sejauh mana persiapan kalian untuk datang ke sini. Apakah hanya sekedar gaya yang luar biasa “GAK BANGET’, ataukah kalian benar-benar sudah menyiapkan perbekalan, paling tidak untuk tidur dan makan? JAWAB!!! Kalian tidak menyiapkan sama sekali, kan? Bekal kalian hanya pesan singkat “ga mau merepotkan?”. GOOOODDDD!!! Aku tidak tahu harus menyampaikan kemarahan ini pada siapa lagi.

Please Indra.. Lain kali, kamu jangan berani-berani datang dengan rambut direbonding lagi. Aku sudah menyiapkan gunting kuku untuk memotongnya. Gunting kuku gajah.. Jadi, sekalian kepalamu yang terpotong.

Bertepatan dengan itu, aku harus berdebat dengan salah satu orang yang kukenal. Aku benar-benar merasa kesal ketika aku harus dipojokkan pada situasi yang tidak kulakukan sama sekali. Aku tidak merasa salah ketika “mereka datang dengan alasan Mbak Ariel”. Di mana letak kesalahanku? Karena aku bahagia mereka datang (SEKALI LAGI, AKU BAHAGIA LOH)? Karena aku rela mambagi waktuku yang singkat dengan mereka? Ketika aku harus bingung ke sana dan ke mari, mencari cara termurah untuk membiayai mereka? Ketika untungnya, aku ditemani Lukvi, sementara anak-anak yang lain pergi?

Hingga hari ini berakhir, aku sama sekali tidak menemukan jawaban di mana letak kesalahanku. Hanya marah, marah, dan marah yang bisa kurasakan. Karena mereka, karena Mbak Ariel, karena perdebatan yang seharusnya tidak ada, karena aku tidak membawa celana dalam untuk ganti ketika aku menginap di tempat Lukvi, dan karena pesan singkatku tidak dibalas sama sekali.

Jumat, 1 Juli 2011

Hari wanita. Aku dan Lukvi memutuskan untuk melakukan perawatan diri. Kamu tahu, Yasin? Dia ada bersamaku seharian penuh. Hahahahahahahahaha.. Maaf ya.. Kamu pasti akan semakin menjauhkan aku dari kekasihmu, ketika kamu berhasil menemukan link untuk masuk dalam dunia mayaku. Agagagagagagagaga..

Berjam-jam.. Kami sibuk melulur, mengecat, melakukan segala sesuatu yang membuat kami tidak produktif di kampus. Menyenangkan..

Sore menjelang. Kami mulai membayangkan apa yang terjadi esok hari. Kami belum menyiapkan apa pun, termasuk dana yang harus kami sisihkan untuk mereka (dan akhirnya bukan menyisihkan, tapi menghabiskan).

Kunci utama hari ini adalah “membuat semua pihak menjadi nyaman”. Kami berdua merancang hari kami sedemikian rupa. Membuat semuanya menjadi mungkin untuk dilakukan. Melakukan pengandaian, dan mencari jalan keluar untuk pengandaian itu.

*aku tidak tahu, bahwa semua yang kami andai-andaikan, benar-benar terjadi. Jadi, aku berencana ke rumah Lukvi sebelum aku benar-benar pergi dari Yogya. Aku rasa semua pengandaian kami akan berhasil untuk yang kedua kalinya*.

Membuat semua pihak menjadi nyaman juga tidak mudah ternyata. Apa yang harus kamu lakukan seandainya kamu harus memilih antara teman, keluarga, kekasih, atau dua orang yang tak diundang?

Begitu yang kami rasakan (tapi setidaknya, aku tidak berkutat di kata keluarga). Aku tidak bisa memilih, karena pada akhirnya aku harus melakukan semua hal secara bersamaan. Pertama, aku memastikan bahwa kedua tamu tak diundang itu sampai di tempat dan tangan yang tepat. Kedua, aku memastikan bahwa aku bisa bertemu dengan orang yang kutunggu, dan ketiga, aku memastikan bahwa temanku tidak seorang diri ketika menemani kedua tamu tersebut. Bayangkan!

Sabtu, 2 Juli 2011

Hari ini akan ada beberapa bagian yang harus dihilangkan. Kembali lagi, alasannya adalah untuk membuat beberapa pihak yang terlibat tetap merasa aman dan nyaman. Apa yang kami andai-andaikan benar-benar terjadi. Tepat, dan tidak ada satu pun yang di luar rencana! Semuanya sama persis. Hebat! Atau hanya sebuah pengaminan dari harapan yang kami sampaikan?

Inti dari semua yang kami rencanakan ada di tahap ini. Dan besok..

Aku malas bercerita dan mengingatnya. Aku tidak suka. Benar-benar tidak suka dengan sebuah keadaan yang tidak terencana.

Minggu, 3 Juli 2011

Cukuplah aku tahu bahwa apa yang kami persiapkan ternyata tidak mencukupi. Kalian tahu?

Ibuku baru saja mengirim 450 ribu pada hari Kamis. Itu adalah biaya hidup hingga tanggal 15 Juli. 12 hari lagi. Dan hari ini, uang itu menyusut menjadi 50 ribu. Wauw.. Amazing! (pas banget sama lagu yang dinyanyikan sama Aerosmith sekarang. Dan aku benar-benar ingat. Aku hanya menguranginya untuk bensin full tank, dua bungkus rokok, dan makan ala kadarnya (kecuali hari Sabtu, karena aku tidak mengeluarkan biaya apa pun hari itu). Sisanya? Raib.. Di tangan orang lain.

Aku pelit? Iya.. Aku perhitungan? Sangat iya..

Jika aku memiliki pemasukan lain, aku sama sekali tidak akan mengeluarkan komentar. Aku sama sekali tidak akan kebingungan menjalani hidup hingga tanggal 15 besok, dan aku sama sekali tidak akan marah.

Aku baru saja berhasil menaikkan bobot badanku hingga tiga kilogram. Itu adalah sejarah yang patut dicatat. Dua celana jeansku tidak muat untuk dipakai. Tapi sekarang? Bobot itu kembali lagi di angka 55 kilogram. Artinya? Aku sama sekali tidak bahagia!

Senin, 4 Juli 2011

Hari berat berikutnya. Messing day. Bungee jumping membuat saluran telingaku menjadi penuh air. Mengerikan dan menyakitkan. Tidak perlu dibahas bagian ini. Hanya pengarungan biasa, dengan tawa yang terkesan dipaksakan.

Aku harus menekan rasa malu ketika harus berkata pada beberapa orang “nyuwun tulung.. karena kita tidak punya biaya..”. Sampai segitunya. Karena apa? Karena tidak ada satu pun di antara kami yang ingin mengecewakan hari mereka. Pantaskah ketika tamu datang, dan kita mengatakan bahwa kami tidak memiliki biaya sama sekali untuk mendanai mereka? Pantaskah ketika ada tamu datang, dan aku harus mendengar “tamune sopo je? Duitku wis entek nggo nguripi”. Baiklah. Baiklah. Maaf untuk penempatan yang salah. Seharusnya aku tidak menempatkan mereka di Setrajana. Maaf untuk itu.

Untunglah kalian pulang hari ini. Jika tidak, maaf saja, aku lepas tangan.
Aku tidak tahu. Hingga hari ini aku tidak bisa melepas rasa marah dengan legowo.
Aku belum pernah merasa dirugikan semacam ini. Hanya karena pemikiran singkat, jangan sampai merepotkan orang lain, pikirkan itu.

MEREPOTKAN..!!!!!!!

Aku bukan orang yang bisa dengan mudah mengatakan “tidak”. Dan kadang, aku semakin menjadi bodoh, yang selalu, dan akan selalu diberi cap sebagai orang yang bisa dibodohi dengan mudah.

Mungkin itu yang membuatku marah. Bisa saja dari awal aku memberi penjelasan singkat “kalian jangan ke sini. Bukan saat yang tepat, dan tidak ada yang bisa menemani kalian.” Mudah kan? Tapi aku tidak melakukannya. Karena apa? Karena aku tidak bisa melakukannya. Sampai kapan pun, aku akan sulit mengatakan “tidak”, dan hanya bisa marah dengan cara seperti ini.

Selasa, 5 Juli 2011

Mulai hari ini dan entah sampai kapan. Aku tidak tahu bagaimana aku harus makan atau memenuhi kebutuhan hidupku yang lain.. Menyedihkan.. Dan aku masih tetap marah dan tidak mau menerima apa yang sudah terjadi. Luke, sepertinya kita ga bisa zakat mol untuk beberapa hari ini..

Sepele, tapi menyebalkan!!!!

E atau S

Kita bermain dengan pengandaian. Jika pada akhirnya aku takut untuk membuat sebuah keputusan, apakah yang akan aku lakukan?

1. Aku akan berusaha membuat pilihan itu bernilai zero sum. Aku mendapatkannya, atau tidak sama sekali.

2. Aku akan membuat kedua pilihan itu menjadi milikku.

3. Aku akan membuat titik di dalam otakku menjadi diam untuk bekerja.

4. Aku akan membuat seolah hidupku tidak bermakna.

5. Aku akan menghilangkan faktor penyebab pilihan itu muncul.

Membuat sebuah keputusan berarti berhubungan dengan dua atau lebih pilihan. Lagi-lagi, jika aku berhadapan dengan kenyataan yang membuat aku harus berkata iya atau tidak, maka lima poin di atas akan kujadikan pilihan. Membuat pilihan di atas pilihan yang tersedia. Seperti itukah hidup? Berkutat pada memilih dan dipilih.

Sampai sejauh ini, pilihanku untuk membuat hidupku berbeda dengan orang lain membawaku pada satu titik kemarahan. Aku kembali lagi pada masa di mana aku harus bertahan seorang diri, tanpa ada seorang pun yang menemani. Jika dirunut ulang, pilihan yang kujalani membuat aku menjadi seorang yang tamak. Ingin memiliki segalanya, tanpa memikirkan apa yang terjadi setelahnya. Sebenarnya ada baiknya hal itu terjadi. “Ada baiknya” tentu terjadi setelah beberapa bulan kejadian yang kupilih. Untuk menjadi seseorang yang berguna di saat genting itu, justru malah membuatku kacau dan tidak berpijak pada pemikiran yang rasional. Apa yang terjadi adalah, aku terkungkung di dalam ketakutan dan pemikiranku sendiri. Berpikiran negatif, dan berusaha untuk berhenti memilih jalan yang lebih baik. Poin nomor tiga dan empat kulakukan secara bersamaan.

Faktor memilih itu muncul ketika aku dipandang sebagai orang yang memiliki kapabilitas lebih. Penilaian orang lain terhadapku membuat aku berdiri menjadi pribadi yang defensif. Berpikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk membodohiku. Aku mampu, dan aku bisa dengan mudah dimanfaatkan. Karena aku tidak bisa dengan mudah mengatakan “tidak”. Percayalah, aku tidak bisa menghilangkan faktor itu dari dalam hidupku.

Cara terbaik untuk menjalani hidup adalah dengan membuat semuanya tampak sederhana. Mencatat semua alasan, dan hasil positif apa yang akan didapat. Selesai semuanya. Dan menurutku, cara termudah membuat semuanya menjadi sederhana adalah mengenali diriku dan menjadi “aku”. Semua poin di atas sudah pernah kulakukan. Dan aku lebih bahagia ketika aku memilih minum teh panas dari pada es teh ketika udara panas menyerang. Hanya berbeda dua huruf “e” dan “s”. Sesederhana itu. Namun semuanya tampak lebih baik setelahnya.

Ancang Ancang

Terlalu kuatkah menjadi seorang yang harus selalu tersenyum? Membuat nyamankah apa yang kau lakukan saat ini? Ataukah kau berdiri sebagai satu pribadi canggung yang tak ingin dikenali orang lain? Aku mencoba membuat sebuah awalan baru, dengan kapasitas baru, dan dengan pertimbangan yang tidak cukup mudah untuk diperdebatkan pada akhirnya. Dengan atau tanpa usaha, aku beranjak meninggalkan sebuah kehidupan, tanpa ada tangisan, tanpa ada lamunan semu yang tak ingn kubagikan pada setiap orang yang mengenalku.

Aku menanti saat itu tiba, saat di mana mataku tak lagi dapat melihat raut wajah yang mulai menua. Di mana aku tak dapat berdiri tegak, di mana aku tak bisa lagi mendengar bahwa betapa aku sangat disayangi. Di saat itulah, aku akan melihat siapa yang tersisa. Apakah hanya aku? Ataukah bersama orang yang sangat kurindukan untuk ada di sampingku?

Dua puluh, tiga puluh, empat puluh, atau bahkan sampai tak terhitung lagi jarak waktu yang tak kuingini, aku akan tetap pada jalur yang sama, menjadi seorang wanita, dengan status yang mengikutiku, tetap ingin dikenal sebagai seorang yang kuat. Di mana pun Kau berada, adalah selalu untuk menguatkan aku. Aku hanya ingin mencoba untuk tersenyum. Dan dari sinilah semua berawal. Sebuah senyum untuk memaafkan apa yang membuatku menangis. Hanya karena itu mereka mengenalku. Hanya karena senyum itulah aku menjadi lebih kuat. Aku menang, ketika aku bisa tersenyum, ketika aku bisa menertawakan apa yang pernah menimpaku.

Cobalah membuat sebuah perubahan dengan berkaca pada matamu. Dia akan terus berkaca-kaca jika kau merapatkan bibirmu. Dia akan terus mengeluarkan cairan yang kau namakan dengan kesedihan jika kau terus membuat sebuah penyesalan. Cobalah!

Berusahalah berkata “terima kasih” untuk semua yang pernah kau cicipi, bahkan untuk sebuah hari di mana kepalamu terasa berat untuk mendongak ke depan. Nikmati semuanya. Akan terasa berat, namun akan menjadi sebuah kelegaan ketika pada akhirnya ada yang berkata “kau hebat”.

Dan jika pada akhirnya aku harus berjalan sendiri, maka hanya akan ada aku dan Kau. Hanya Kau, yang akan selalu menyematkan kata takdir di bawah kakiku. Itu artinya, sekali lagi, aku menang. Sekarang, dan kapan pun.

Senin, 02 Mei 2011

Paskah = Kelaparan

Kamis, 21 April 2011

Seharusnya kuberi nama dengan Kamis Putih, namun tidak akan ada banyak orang yang akan memahaminya. Sebuah awal dari Tiga Hari Suci. Dan, yang terjadi adalah : aku mulai tidak bisa membeli teks misa yang harusnya bisa kubaca. Bahkan, persembahan yang bisa kumasukkan ke dalam kotak persembahan sama dengan uang parkir yang harus kubayarkan pada penjaga motor. FUCK!!!

Menu makanan hari ini :
- Pagi (sekitar pukul 11.00), anggap saja masih pagi : nasi putih dengan tahu petis. Kenyang dan enak.
- Malam (sekitar pukul 21.00), sepuluh jam kemudian : sekitar enam sendok makan nasi putih dengan dua tempe bakar berukuran kecil. Benar-benar kering. Aku hanya terdiam, berusaha mengunyah, dan tetap mengucapkan terima kasih pada yang berkenan membayariku.

God! It really makes me wonder, why.. just why??? But anyway, it’s time to learn how to say “Thanks God!” with swelled lips. I’m still learn, so please, You don’t mind to give me more and some terrible moment, right??

Bolehkah aku marah pada orang-orang di bawah kosanku itu? Mereka terus saja berteriak-teriak, mengeluarkan kalimat-kalimat tidak penting. Setahuku, berteriak itu hanya cukup untuk satu atau paling banyak lima kata saja. Tapi mereka berteriak untuk satu kalimat penuh. Eeerrrrgghhhh!!! Pekak telingaku mendengarnya. Bisakah aku marah? Sedikit saja..

Jumat, 22 April 2011

Aku memulai hari dengan keadaan yang tidak begitu baik. Sungguh manyun bibirku. Aku juga tidak tahu mengapa. Kurasa karena faktor hormonal pra menstruasi. Yang aku tahu hanya marah, marah, dan marah. Padahal, aku juga tidak tahu mengapa aku harus marah. Sungguh aneh. Tapi saat ini, marah itu adalah hal ternikmat yang bisa dinikmati. Faktor keduanya adalah aku belum sarapan. Lagi-lagi, jam kecilku sudah menunjukkan arah 11.15. Dan aku belum sarapan.

Aku belum membuka ikan kuningku. Kemarin, isi perutnya sudah kuambil 7000 poin untuk memberi makan Supri. Hari ini, aku tidak tega membukanya. Kurasa matanya sudah cukup turun untuk menahan rasa sakit di perutnya. Tapi mau bagaimana? Saat ini adalah giliranku untuk diberi makan. Dan aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa.

Yang biasa kupanggil dengan sebutan God itu tidak berwujud sama sekali. Aku tidak bisa merengek di depanNya. Aku tidak bisa mengajakNya keluar rumah, memboncengku, dan membayariku sarapan. Aku menunggu saja, mungkin ada baiknya aku bersabar. Tidak terlalu buruk kurasa.

Pukul 18.00. kupilih waktu ini untuk menjalankan misa Jumat Agung. Satu masa di mana bacaan yang akan dibacakan oleh lektor harus dinyanyikan. Iya, dinyanyikan. Sepanjang itu, dan aku harus duduk manis menikmatinya. Tentu saja, dengan perut perih yang tak kunjung mendingin. Untungnya, aku tidak memilih pukul 21.00. Karena jika tidak, aku harus lebih lama lagi duduk untuk menyaksikan para baptisan baru.

20.35. Aku masih di parkiran luar gereja. Mama telepon. Dan dia bertanya “Nduk, lapo se kok tumben men kowe ga gelem dikongkon blonjo?”

Aku hanya terdiam. Tertawa kecil..

“Opo’o kok?”

Pada waktu ini, aku diminta oleh ibuku untuk melihat harga gorden. Hanya melihat. Dan aku benci melakukannya. Karena aku sama sekali tidak memiliki uang. Perlu kau ketahui, aku adalah wanita yang gila belanja. Sangat tahu apa yang aku inginkan, dan selalu melakukan pilihan tepat untuk membuat diriku cantik. Dan sangat tidak mungkin bagi ibuku, bahwa aku tidak menyukai kegiatan “pencarian gorden” ini. Indikator itulah yang menyebabkan ibuku membuat pertanyaan seperti di atas tadi. Jika diterjemahkan, maka bunyinya akan berubah menjadi seperti ini “Nduk, kok tumben banget kamu ga mau disuruh liat-liat dan belanja? Biasanya suka banget?”

Aku hanya terdiam. Tertawa kecil..

“Kenapa?”

Akhirnya aku memberanikan diri “hehehe.. Soalnya ga ada duit, Ma..”

“Hhhhh.. Pancet ae..”
Pancet=tetep aja, ga berubah.

Dengan beribu alasan, aku mengungkapkan mengapa uang saku yang diberikan olehnya bisa habis dalam waktu 15 hari. Aku juga tidak paham mengapa uang itu tiba-tiba harus melayang. Kasus ini pasti sama dengan kalian, kan? Jadi, aku tidak akan bercerita lebih jauh.

“Laper, Ma..”

“Owalah.. Yo sik, ta kirime..”

Sabtu, 23 April 2011

Hahahahahahahahahahahahahaha.. kesimpulannya adalah Paskah tidak sama dengan kelaparan. Karena dalam windows, aku tidak bisa mencantumkan tanda tanya (?) di belakang judul yang kubuat. Maka, jawabannya ada di sini.

So, I’ve made everything OK in My time, not in yours, girl!!

Just Simple Like Me..

Salah satu hal yang paling kuinginkan sejak aku ada di dunia adalah : aku ingin mengambil sebanyak mungkin barang dari supermaket – TANPA MEMBAYAR!!! –

Bahkan, tidak ada satu orang tua pun yang mengajari anaknya untuk berbuat seperti aku. Tapi, aku terlalu sering diajak ke berbagai pusat perbelanjaan, namun hanya sedikit barang yang bisa kuambil dari sana. Suatu saat, aku akan pergi ke tempat seperti itu. Dan akan kuambil barang yang kuingini, tanpa membayar sepeser pun! Tunggu saja.

Hal terbesar kedua yang kuingini adalah, aku ingin memiliki rumah makan yang akan selalu didatangi oleh manusia-manusia kelaparan. Mereka kuharuskan membayar dengan biaya yang sesuai dengan kantong mereka. Jadi, aku bisa tetap bermain-main sesuka hatiku, bermain dengan anakku, dan menunggu aliran uang itu datang kepadaku, tanpa harus mengeluarkan pikiran seperti orang-orang di perkantoran itu. How beautiful is it..??

Hal ketiga, aku sangat-sangat ingin memiliki beratus-ratus anjing di rumahku.

Keempat, aku ingin memakai gaun panjang berwarna turqoise, dengan belahan dada yang rendah, dilengkapi jas fit berwarnaa hitam. Aku menunggu kulitku berwarna sedikit terang. Jika tidak, aku hanya akan terlihat seperti ondel-ondel.

Kelima, dan terakhir, aku ingin mengaplikasikan kesemuanya itu dalam waktu singkat.

Minggu, 17 April 2011

S*** Thing I've Ever Read..

Like this:

Melenggang tanpa terkejar, dan hanya berpacu melawan bayangan..Preketek..

Let's guess?! What they're thinking 'bout us.. Ndasnya..

Aku juga bisa nulis seperti ini..

110.000 VS 2,5/4,5.. Down to earth, babe..

Keracunan Mie Goreng Dua Bungkus!!!

Kaleng bir, beberapa batang rokok, lampu biru temaram, laptop yang masih terus mencoba mengalunkan tembang sendu, piring kotor bekas mie goreng, mata yang tak bisa terpejam..

Segaris batas kebosanan terus mencekam jiwa..

Otak mampet!!

Yang terlintas hanyalah kaki kecil yang terus berlarian kecil, mencoba menyelusur apa yang tak pernah diketahuinya. Tanpa dukungan dari orang tua yang sudah seharusnya ada di sebelah telapak tersebut.

Itu langkah kakiku..

Hitam, kecil, dan sedikit bengkok tak beraturan. Jejaknya masih membekas hingga sekarang. Tak pernah berubah menjadi lebh putih, atau setidaknya berbelang sedikit menguning. Tetap saja hitam dan semakin mengering.

Yang terlintas kemudian adalah nafas kecil di balik tengkukku. Manja dan menekan syaraf perabaku. Terus berputar pada arahan percumbuan.

Aku tak mengenal nafas itu, hanya bisa kurasakan terus bergeliat di atas tengkuk berbuluku. Hangat..

Isi kaleng bir itu membuatku sedikit tenang. Beberapa waktu yang lalu, tangan kiriku menariknya dari peraduan, kutegak, dan yang dihasilkan adalah efek alkohol 5% yang direncanakan dalam dirinya. Yang dihasilkan berikutnya adalah tulisan ini. Sebuah netralisir dari dua bungkus mie yang kumakan dua jam lalu. Mi busuk!! Aku keracunan, atau hanya kekenyangan?

Brengsek!!!

Ini efek keracunan kah?

Kepala semakin berat, tangan melemas, dan pikiran tak tertuju pada satu titik. .

Tulisan pun meracau..

Aku hanya ingin tidur..

Bisa kah????

Selasa, 05 April 2011

Specially for Luke.. (thank you..)

Sahabat bukan dalam artian perkenalan yang lama..

Bukan dalam artian mengerti kita luar dan dalam..

Bukan dalam cakupan bertemu setiap saat dan setiap waktu..

Namun dia cukup tahan, untuk berada di dalam kamar mandi ketika aku buang hajat. IT's WOW!!!!

Dia cukup kuat untuk tidak mengeluh, ketika aku berkata "He's Suck!!!". Secepat kilat, dia menggantikan posisiku. THANX A LOT!!!!

Dan dia, ada sebaris jalan bersamaku. Jadi aku bisa lega, karena ada yang belum selesai kerja skripsi, tapi masih suka jalan-jalan..

Kami tertawa, kami terbahak, kami gila menjadi wanita gila, hanya dalam waktu lima belas hari kerja..

Sampai seluas itu ternyata arti sahabat ya.. Aku baru tahu..

Best Regards,
Martinul..

***** bintang ini aku kasih buat kamu, karena aku baru tau kalo ada yang mau nungguin aku boker selain ibuku.. Di dalam satu kamar mandi lagi..*****

Jumat, 21 Januari 2011

Mereka yang Kukagumi..

Pernah suatu hari aku mencoba mencari buku karangan Sapardi Djoko Damono. Begitu sulit aku mencarinya. Dan saat ini, aku mulai tegang! Dia tidak ada di barisan buku yang kupajang di kamarku! Ke mana dia? Judulnya Membunuh Orang Gila.
Siapa yang meminjamnya? Aku benar-benar lupa! Padahal ada banyak bagian yang
kusuka. Rangkaian katanya. Ya, dia bisa mengganti beberapa istilah dengan tulisan
yang lebih rapi, hingga pikiran kita tidak hanya terpancang pada satu arti yang
telah dipahami sebelumnya.

Demikian pula dengan Ratih Kumala.
Belum banyak bukunya yang aku baca. Hanya
Genesis yang pernah aku habiskan. Itu pun karena bantuan penyakit yang tiba-tiba
datang. Karenanya, aku harus tergolek lemah dan tak bisa berbuat apa pun. Maka
kuputuskan untuk membaca beberapa buku yang belum pernah kuhabiskan sebelumnya.
Padanan kata yang dibuat di dalamnya menyiratkan sebuah alur sastra yang memukau.
Kita bisa merasa bahwa ada begitu banyak kata yang tidak pernah kita pakai dalam
kehidupan sehari-hari, dan bisa ditampilkan dengan apik untuk melukiskan kejadian
Ambon beberapa waktu yang lalu.


Maria Hartiningsih. Aku mengenal dia dari tulisan-tulisan “kaku” nya di
kolom Kompas. Aku menyukainya dalam artian, aku belum bisa menulis sebuah ritme
yang berkaitan dengan kehidupan dan kenyataan sosial. Ada dikatakan bahwa tiap
penulis harus berani keluar dari jalur penulisannya. Tidak hanya satu bahasan dan
pola yang sama tiap kali tangannya menulis. Itu yang belum kulakukan saat ini. Aku
bisa dengan mudah menggambarkan apa yang ada di otakku ke dalam sebuah rangkaian,
namun untuk menggabungkan dengan generalisasi pemikiran alamiku, aku belum sampai
pada tahap itu.

Martina Ariel. Aku belum pernah melihat tulisannya pernah diterbitkan. Mungkin ada ketakutan tersendiri di dalam dirinya. Tentang apa yang dipikirkannya mungkin tidak sebaik penulis lain. Tentang apa yang dilakukannya mungkin tidak sebaik yang diharapkan orang di sekelilingnya. Dia terlalu banyak berkutat pada hal yang sama, tidak berani membuat sebuah perubahan signifikan pada model penulisannya. Aku ingin melihat dia berani mengangkat apa yang menjadi keraguan di dalam dirinya. Dia pernah menulis mengenai tradisi kepulauan, dan dia tidak ingin menyelesaikannya. Dia pernah menulis tentang kepenatan kehidupan marjin, namun tak dianggap dengan respon yang baik. Dia pernah menulis tentang berbagai kenyataan yang melanda hidupnya, dan dia tidak berani mengatakannya secara langsung. Itu kesalahan terbesarnya, dia hanya berani di atas kertas!!

Tampaknya Ada yang Berontak??


Aku paham benar kalian juga lapar..

Tunggu ya.. mamaku sedang menghantar makanan untuk kita.. Dia bilang sebentar lagi ada uang kiriman..

Tapi kamu harus janji, jangan habiskan semuanya kalau aku sudah makan. Sisakan untuk pertumbuhan massa tubuhku!!

Awas ya!!

Rabu, 12 Januari 2011

Jujur, aku bingung.. dan aku butuh bantuan..

baiklah, aku suka bingung sama blog ini..

kenapa semua tulisanku jadi ga karu-karuan si formatnya?

padahal sudah kubentuk sedemikian rupa, tapi begitu di poting, semua beruubaah jadi jelek dan tidak menarik..

tulisan pada dempet, tulisannya juga gitu-gitu aja, ga bisa dimacem macemin.

yah, mungkin bisa. tapi aku kan gaptek abiit..

bantuin donk..

Jangan Mau Kalah Pada Uang..

Mengapa dan mengapa uang tiga ratus ribu itu bisa untuk satu bulan penghidupan?
Ada yang bisa memberikan rician?

Bisa, bisa, bisa.. bagi yang belum bisa berhemat (termasuk saya sendiri), ini adalah satu bahasan yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

Baiklah, awalnya.. Siapa yang mau hidup sangat hemat dengan uang sebegini rendahnya? Dengan berbagai alasan, pemikiran ahli ekonomi yang berpendapat bahwa penghasilan akan berbanding terbalik dengan permintaan adalah salah besar!!! Makin besar uang yang kita miliki, maka akan semakin banyak kebutuhan yang harus (?) kita penuhi. Ya, apalagi lingkungan semakin membuat kita tidak bisa berhenti menjajakan apa yang ada di dalam dompet.

Selanjutnya, jika dihitung-hitung, jujur ya, maka dalam satu bulan, saya .... mmm... akan menghabiskan kira-kira sepuluh juta. Makan mewah setiap saat, jajan ala kadarnya (baca : jus, Parsley, Takoyaki, Lays, Chitato, J-co, Breadtalk), sepatu keds Converse limited edition, jins biru tua yang selalu digantung Nautica dengan harga tak kurang dari 15% harga aslinya, turtle neck tanpa lengan berwarna turqoise yang akan pas dan oke punya ketika dipakai di sungai, biaya pemeliharaan gadgetku yang semakin banyak, biaya perawatan Holden yang harus saya parkir di luaran (kasihan, dia kehujanan tiap hari), oh iya.. untuk Max, Rotwailer hitam yang selalu menyapa ketika saya pulang. Dia butuh makan dan perawatan tiap bulannya.

Waaahhh... masak saya hanya diberi Sepiluh juta?? God!! Mana cukuuup???

Come on, Mom..anakmu ini hidup dalam perantauan. Kau tahu bahwa perut kecilku ini tak bisa diajak berkompromi setiap harinya. Kau tahu pasti bahwa kulitku semakin menghitam di sini. Dan maka dari itu, dokter kulit harus selalu siap setiap saat. Kau juga tahu bahwa aku tak tahan dengan udara panas. Oleh karena itu, kamarku harus segera dipasangi AC.

Hahahahahahahahahahahahahahahahaha... betapa indahnya jika hidup di atas benar-benar terjadi! Mungkin, sekarang Max ada di sebelahku, memandangiku dan bergeliat manja di perutku. Yah, baiklah. Aku belum bisa mencukupi keinginan di atas, itu mengapa segala hal yang kutulis di atas kuberi nama sebagai “mimpi”. Kecuali bagian takoyaki. Aku sebenarnya tidak tahu makanan apa itu. Kata salah satu temanku, takoyaki mirip mpek mpek. Dan itu berarti sama dengan ikan. Tidak! Harusnya tadi aku menulis french fries MCd.

Ini adalah bagian yang benar dariku : jins belel ala kadarnya, baju awul-awul, beberapa pasang sepatu yang kubeli dengan pemikiran bahwa “kau harus pas dipasangkan dengan pakaian apa pun”, gadget cina dengan merek HT, laptop, tas yang mayoritas berwarna hitam, kipas angin Maspion peninggalan oma, dan sampai saat ini, aku masih berbangga diri dengan cita rasa masakan yang kubuat setiap harinya. Sisanya, tak ada.. aku berani meninggalkan kamar kos tanpa dikunci. Karena aku yakin tak ada yang bisa diambil dari dalamnya.

[intermezo : jangan menulis seperti ini. Gunakan satu kata pengganti. Jangan digabung antara “saya” dan “aku” pada satu bagian yang menceritakan pola hidupmu].. hehehe.. but, I did it..dari pada harus mengganti lagi.

Baiklah, kembali lagi pada topik awal.

Mengapa saya bisa hidup dengan jumlah sekian itu?

Itu pertanyaan mudah yang bisa kuceritakan di sini :
1. Bagian termahal dalam hidupku adalah rokok, bukan makanan. Sudah kusampaikan di atas bahwa aku adalah seorang gadis yang dibiasakan memasak sejak kelas tiga sekolah dasar. Maka wajar, bila tanganku cukup terlatih untuk membuat kreasi makanan. Dan, aku membuka bisnis catering. Belum bisa dikatakan seperti itu sebenarnya. Tapi, ada satu temanku yang memesan makanan padaku tiap harinya. Dan dia memberikan uang belanja tiap bulan. Jadi, bisa ditebak. Aku tidak akan repot membuang uang untuk makan di luaran. Karena hampir semua masakan di luar tidak sesuai dengan harga yang ditawarkan – kecuali untuk beberapa tempat langgananku- dan kedua, aku bisa menghemat, bukan? Karena aku selalu mengambil jatah tenagaku dari makanan dia (ambil nasi secukupnya, comot-comot dikit dari wajan, yang penting bisa untuk makan seharian). Dan perlu diingat, aku adalah wanita dengan keinginan makan yang tidak bisa dibendung. Jadi terlalu berbahaya jika aku harus membeli segala keinginan perutku.

2. Untuk rokok, kubuat perhitungan seperti ini. Sampai tanggal 12, aku membeli satu bungkus rokok, setelah itu, rokok harus dikurangi dengan mendatangi burjo dekat kosan yang menjual L.A merah ngecer. Setiap keluar, jangan membawa semua rokok, karena pasti ada tangan-tangan jail yang meminta rokok. Cukup bawa beberapa saja. Itu juga salah satu bagian menghemat. Kecualikan jika kau adalah pekerja lapangan, yang malas kembali ke kos, maka bawalah semua rokokmu.

3. Untuk foto kopi dan berbagai keperluan kuliah, aku tidak pernah membuat budget khusus. Karena tidak terlalu penting bagiku. Aku lebih suka Conan dari pada buku kuliah tebal yang harus kubeli. Masih ada perpustakaan dan teman-teman baik yang mau meminjamkan bukunya.

4. Untuk persembahan di gereja tiap minggunya, itu tidak bisa ditawar. Karena aku harus menyisihkan 10% untuk Dia. Dan untuk yang satu ini, kubuat budget lebih.

5. Untuk urusan lapar mata, itu bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Kadang, aku hanya berpikir mama di rumah. Itu alasan terkuat bagiku untuk meletakkan kembali barang yang kuinginkan. Dan kupikir, semua barang yang kumiliki tidak terlalu buruk kualitasnya. Dan telalu baik bahkan. Tas Eiger yang dibelikan Mama, belum rusak sejak 5 tahun lalu. Dan itu alasan mengapa aku tidak bisa meminta lagi. Mama yang pintar.

6. Jika ada keperluan sangat mendadak, misalnya rumah sakit dan obat-obatan, itu urusan PaMa. Aku selalu berharap kalau uang berobat ada sisanya. Hahahaha, bisa buat jajan nantinya.
7. Nah, untuk keperluan sungai. Itu bisa diakali. Kalau belum punya uang, satu-satunya cara pinjam dulu. Dua-duanya, minta ke Mama dengan alasan “bayar listrik, bayar utang ke temen, atau beli buku”.

8. Sisanya, untuk transportasi ke kampus. Aku punya sepeda. Tapi, matahari Yogya tidak terlalu baik untuk kulitku yang sudah hitam. Maka, jika aku harus ke kampus lebih dari pukul 09.00, aku harus naik bis. Pulangnya bisa nebeng atau jalan kaki.

9. Sisanya lagi yang tinggal sedikit, atau biasanya disebut receh, kumasukkan ke perut Frengki, ayam kuning di atas buku-buku berdebuku.
10. Dan.. semuanya bisa terjadi. Aku masih bisa bersenang-senang dengan tiga ratus ribu yang kumiliki..Jangan kalah licik dengan hidup. Kita punya otak untuk diajak bekerja sama, bukan?

Sabtu, 08 Januari 2011

Hanya Angan Angan Kotor..

Baiklah!! Baik!! Aku kalah!!

Aku mengalah, aku menyerah, dan aku akan mengatakan lebih dulu. Aku kangen..
Dua kata yang tak pernah ingin kita ucapkan lebih dulu kan, sayang?
JAIM kalo orang bilang..

Tapi tidak kali ini. Cukup lama aku menunggu untuk membuatmu mengatakan bahwa kau juga merasakan hal yang sama. Tapi kurasa itu satu hal yang bodoh. Maka kuputuskan, kau akan terkejut melihatku berkata hal “tabu” ini di depan banyak mata. Dan konsekuensinya, mereka akan menertawakanku, mengatakan begini mungkin “Ariel.. ciieee...”. Oke, itu bukan hal yang memalukan sepertinya. Dan konsekuensi untukmu, kau akan pulang cepat bukan? Mungkin kau akan lebih malu jika aku berkata demikian di depan banyak mata. Aku pintar, bukan?

Kita tahu, apa yang kutulis pada alinea di atas adalah angan, yang mungkin segera terwujud.

Hahahahahahahahahahahahahha...

Itu tertawa getir, sayang. Bukan tawa bahagia karena aku bisa berlagak seperti gadis yang tak memiliki kekasih. Apa kau tak takut ketika aku yang sungguh manis ini direbut laki-laki ganteng sedunia? Apa kau tak segan ketika kulit hitamku ini menarik mata para lelaki muda?

Kurasa sekali lagi, itu hanya angan.

Eh, mungkin bukan angan. Bagian hitam dan manis itu harus kujadikan hakku (pikiranku sendiri lebih tepatnya). Dan laki-laki yang mengejarku akan kujadikan paksaan untuk membuatmu segera berbalik padaku. Kau yakin akan melepasku sendirian di sini? Ini ancaman! Aku mengancammu!!

Baik, kuberi kau waktu lagi. Dalam hitungan empat puluh malam! Jika kau tak kembali, aku..aku..mmmmm.. aku..mmmm... aku akan tetap menunggumu. Oke, mungkin lebih lama lagi. Enam puluh malam. Ya! Jika dalam waktu itu kau tak juga menampakkan wajahmu, kurasa... aku akan menjadi gadis tersabar di dunia. Dan tetap sama, aku masih akan dengan setia menanti kau merengkuh tanganku, menggandengnya, dan dengan kata maaf kau akan menciumku..Lakukan itu! Maka aku akan memaafkanmu! Jika tidak kau lakukan. Lihat apa yang akan kulakukan!

Kau : “ Apa? Kamu mau ngapain?

Aku : “Menciummu sepuasnya..”

Kau : “ hhhmmmmm...”

Aku : “hahahahahaha...” (kali ini aku akan tertawa bahagia)

AKU KANGEN KAMU, GNAY...

Kado Natal Terbaru

Bayangkan bahwa aku adalah seorang penulis. Semua orang menanti tulisan yang kubuat. Ya! Itu yang kurasakan saat ini. Hanya beberapa orang yang menanti kejadian apa lagi yang akan mengiringi langkah mereka beberapa menit ke depan. Dengan teliti, dengan raut muka yang tak dapat kuselami lebih jauh, dengan pipi yang berkerut atau pun tersungging penuh keasaman, dengan pantat yang terpatri pada kursi busuk, atau dengan mata yang terus ingin bergerak menelusuri peta yang kubuat. Sejujurnya, ada peta yang tak dapat kubaca saat ini. Begitu indah, dengan segala tanah terjal yang mengelilinginya. Dengan segelintir uap air yang mengembun dengan baiknya, di sekujur batang tubuh daun yang bergerak menuju kepunahan. Menyegarkan.

Dan demikianlah aku. Menulis untuk membunuh segala kepanikan dan ketakutan yang menyergap otakku. Aku hanya bisa terdiam, dan terus menujukan mataku pada satu titik, dengan tatapan tanpa isi, dengan tangan yang terus mengeluarkan teriakan “aku kedinginan..”, dengan kaki yang tercekat pada pasungan rantai yang tak dapat kuurai dengan baik. Begitulah saat ini. Pukul 16.30, sendiri di dalam kotak kecil berukuran 4x5 meter.

Aku mencoba mengingat apakah yang terjadi dengan badan dan otakku selama beberapa waktu ke belakang. Aku sempat kalah! Kalah dalam berbagai kenyataan yang terus berhimpitan dengan keinginan besarku. Dan tak kuizinkan seorang pun mengetahuinya. Bahkan susu putih yang kuletakkan dengan rapi di batang tenggorokanku tak ingin melanjutkan perjalanannya di selusur perut atau usus besarku (jika memang saluran itu yang benar). Kurasa dia berusaha sepaham denganku, mencoba menemaniku dalam kepahitan.

Natal berlalu, dan kudapatkan sesuatu yang baru. Kudapatkan bahwa masih ada yang mencoba peduli pada keberadaanku. Saat itu, ya saat itu. Aku bergerak pada tanah liat yang padat, tanpa kasut, tanpa alas kaki yang pantas untuk berbenah. Aku mencoba menenangkan diriku,namun kurasa belum bisa. Bahkan ketika aku mencoba menutup mata untuk terus berlalu, awan hitam terus mencoba menyergapku dengan berbagai alasan untuk membungkam senyumku. Aku tak mengerti, sebegitunya Dia mengatubkan daun telingaku, menutup mataku, menekuk lututku, dan menangkupkan tanganku untuk berhadapan denganNya, hanya denganNya, tepat satu minggu sebelum Natal itu menyapaku. Aku menyerah dengan kepasrahan, karena aku sadar, bahwa hanya Dia, hanya Dia yang memilikiku. Tak dilepaskannya aku, tidak sedikit pun.
Baiklah, cukup baguskah rangkaian di atas jika kujadikan satu resensi naskah yang akan dibaca oleh beribu mata? (biasanya, tulisan ini ada di bagian belakang buku ). Kurasa belum. Karena aku belum merangkai berjuta kata untuk mengisi bagian dalamnya. Masih kosong, dan disediakan bagiku cukup banyak kertas putih untuk memulai sebuah alunan baru yang akan kurancang dengan baik. Jauh lebih baik dari waktu sebelumnya.

Kita lihat apa yang akan dikatakan orang-orang terkenal pada tulisanku..

Martinus : Nak, aku berjanji melindungimu, karena itu yang ditugaskan padaku semenjak namaku dijadikan ada pada dirimu. Hanya dengan status wanita yang kau sandang, maka nama itu berubah menjadi Martina. Kau begitu mengagumi apa yang ada di sampingmu. Aku menghargai bahwa kau masih bisa menangis padaNya, bahwa kau masih bisa mengatakan bahwa Natal adalah salah satu hal terindah yang pernah ada di dalam hidupmu. Tulislah di dalam kertas itu, bahwa kau hanya akan bersepakat denganNya.

Roh Kudus : Natal bukanlah satu paket yang mengharuskan setiap orang untuk berpakaian serba baru dan bernuansa hijau atau pun merah cerah. Pahamilah, bahwa apa yang harus terjadi akan terjadi dengan sendirinya. Hanya saja, waktu yang diberikan padamu tepat pada saat kau ingin tersenyum. Kau hebat! Kau masih bisa menulis, meski sungging di pucuk bibirmu mulai memudar.

Bunda Maria : Kau jarang berdoa padaku. Mungkin itu yang menyebabkan kau seperti ini, nak. Kau diberi Rosario dengan rantai yang begitu indah, namun tanganmu tak kuasa untuk memakainya. Kotorkah Rosariomu? Atau terlalu sayangkah kau mengeluarkannya dari kantung kecilmu? Harganya mahal, namun akan rusak sia-sia jika kau hanya meletakkannya pada kantung maroonmu.

Tuhan Yesus : When a Man love a woman, He will give everything to make her happy, that’s why I did it for you, girl. Even you had to cry first.. But anyway, I Love you with my own way..

Telingaku : tutuplah kedua cupingmu, maka aku akan bekerja sama dengan hatimu, dan akan kubantu kau mengerti bahwa angin itu masih berhembus untuk berbagi kesejukan denganmu.

Mataku : tutuplah pelipismu, satu, atau keduanya jauh lebih baik. Maka aku akan membawamu pada bayanganNya.

Tanganku : tangkupkan keduanya, hanya tangkupkan. Hanya itu yang kusarankan.

Mulutku : setelah semua dikerjakan, kini giliranku. Aku tak memintamu untuk mengucapakannya dengan lantang. Katakan saja “Maaf, Tuhan..”. Aku tak bisa menjamin air matamu akan mengalah setelah kau membuka matamu, namun kau akan merasakan bahwa semua tulisan yang kau buat akan menjadi satu bagian penting yang akan menjadi tawa di keesokan harimu.

Hatiku : Ariel, He’s here..

Aku Mengantuk Menunggu Sebuah JAWABAN

Kurasa yang kubutuhkan saat ini hanyalah sedikit titik kesabaran. Tidak ada satu pun yang peduli ketika aku hanya bisa tersembab dan terdiam melihat bumi berputar dan mencoba menarikku untuk bergabung bersamanya di lantai tanah basah. Nafasku tersendat dan terpaku pada gantungan satu-satu hitungan jari. Mataku hanya berkedip memandang langkah kakiku yang semakin gontai. Tak ada sedikit pun fungsi nama itu terpapar dalam hidupku saat ini. Katanya, namaku itu berarti singa, penguasa hutan, dan tak ada satu pun yang bisa menghentikannya. BOHONG! Jika nafasku terhenti oleh kejamnya zaman, tentu aumanku tak akan menggetarkan bulu rusa yang kuburu.

Bukan berarti aku menyalahkan keadaan. Namun yang kurasakan saat ini tak lebih hanyalah suasana berkabung tanpa arti yang bermakna. Tak ada satu pun hari yang bisa kuambil sebagai pelajaran. Bukan kebersihan yang kupelajari, bukan tangis pagi yang kunanti setiap tanganku bergerak membuka cakrawala, bukan lantai bersih yang kuinjak tanpa tangis yang membuatnya berkilap, bukan juga pakaian kotor yang kupindai sebagai pemindah tenaga. Hari demi hari, tanganku semakin tak mencukupi untuk menghitung, menggenapi sejumlah waktu yang kutepati sebagai janji untuk menjadi temanku di tempat ini.

Sejenak aku hanya berkeinginan untuk menyapa buku-buku kumal yang tak berharga bagi orang lain, sekejap aku hanya ingin melangkahkan kaki menghisap aroma lain dunia, sedetik saja aku ingin meluangkan waktu melihat pagelaran kecil tentang kehidupan bersama tetua yang mungkin telah menunggu kehadiranku di gedung itu. Namun kurasa, ada orang lain yang sedang meminjam waktu yang kutunggu itu. Dia mencoba meraup goyangan sang fajar, hingga begitu lamanya ia tenggelam.

Rintihanku tak saja membuatku semakin mengecil dan tenggelam dalam buliran pasir waktu, kurasakan dia semakin mengeras, mendekapku semakin kuat dalam sebuah tempat yang tak ingin kukenal. Tempat ini sama saja panasnya, tak bergairah, dan sama sekali tak pernah membuaiku memberikan arahan yang kuperlukan. Sesekali dia hanya berkata ”rasakan kau! Itulah yang kau dapatkan dari sebuah kata yang tak kau pikirkan.”

Apa yang tak kupikirkan sebelumnya? Sesungguhnya aku merasakan sebuah pinangan kehidupan, ada yang menggelitik telingaku, dia menjerit ”KAU DITIPU!”
Mendadak aku hanya bisa diam, berdiri mematung, melirik ke arah kiri dan kanan, bergeliat ketakutan, merintih pada dinding yang tak pernah kulihat sekali pun tersenyum memberiku semangat. Darahku kadang memanas jika melihat awakku menjadi kurus dan tak berisi. Tak pernah mataku diberinya waktu untuk berhenti mengeluarkan air. Tak pernah kasiaanya ia padaku.

Jika kukatubkan mataku, aku melihat si kecil bernyanyi dan terus memanggilku. Dia tertawa dan mencoba merengkuhku pada kehidupan lampau. Dia yang tak pernah merasa gentar dengan apa yang ada di hadapannya, dia yang terus berlari meski jarak panjang memisahkan pergelangan kakinya, dia yang bersenda gurau tanpa kegelisahan yang menangkupinya. Sama sekali tak berbeban. Namun begitu jahatnya matahari itu. Dalam sekejap tawa si kecil itu memudar, berbalik menyungging tanpa arti, menghujat penuh amarah tanpa memikirkan apa yang dilakukannya. Si kecil itu tak pernah sekalipun kutemui berbalik dan tinggal menemaninya.

Adakah pandangan itu melebihi langit? Adakah ruangan di atas sana, yang jika boleh kuatur, aku menginginkan sebuah ruang kecil penuh tawa dan kegembiraan, tanpa adanya belitan tangis? Apakah aku harus menjilat tanah busuk dan mengayuh angin agar aku sampai ke tempat itu? katakan padaku dengan jujur, hai kau!

Terakhir aku bertanya pada seseorang. Dia memberi jawab kepadaku,”maaf, Dia tak pernah sekali pun berkata-kata di depanku, tak pernah sekali pun mendekat padaku meski dalam jarak dekapan rindu, jadi aku tak bisa mengenalkannya padamu”. Katakan, siapa Dia? Katakan padaku juga, bagaimana aku harus menyampaikan kegetiran yang kurasakan? Kata banyak orang, Dia adalah kawan bicara yang paling bisa dipercaya, tak pernah menyakiti dan selalu bisa membuatku tersenyum. Benarkah ada Seseorang yang seperti itu? Kau, kau yang harus bertanggung jawab atas sukmaku saat ini! Dia terus bergeliat mencoba keluar, namun belum kuizinkan. Aku mohon, sebelum dia keluar dan menjarah milik orang lain, biarkan dia tetap tinggal dalamku, mungkin kau bisa kenalkan aku dengan Seseorang itu. Aku ingin mencoba bertanya padanya, satu hal saja ”akankah sukmaku harus terus gelisah dan beraut sendu? Jika ya, cukupkah satu titik kesabaran itu membayar hutangnya padaMu?”
Jawablah..

18 Desember..

Jika kali ini aku bersua dengan dentingan piano dan setitik air anggur,maka percayalah, bahwa hal itu adalah saat terjujur ketika bibirku hanya bisa terdiam. Sayangnya, aku tak bisa melakukannya dengan baik. Tak bisa hidungku mencium aroma rempah pedas yang disampaikan pada ujung gelas tinggi berparas sembilu. Belum bisa, jariku bergerak merapat dengan lentingan manis yang semakin merujuk pada tepuk dan teriakan gembira. Namun, aku tetap berusaha menjadi tuan atas diriku. Tanpa memperhitungkan dengan atau tanpanya.

Begitu bulat kemarahanku saat itu. Dengan segala keberanian, aku hanya ingin mengungkap sebuah kebenaran, bahwa kau kalah pada pilihanmu. Namun apa yang bisa kusampaikan, aku hanya bisa melihat mata sayu yang kau hampirkan pada kalut kesombongan yang terpaku pada bola mataku. Hembusan nafas pilu kuhaturkan pada kekesalan yang membumbung bersama dengan ketakutanmu.

Kupikir saat indah itu akhirnya datang. Aku bahagia melihatnya meringkuk pasrah pada dekapan kuasaNya. Aku bahagia, karena dengan begitu ia hanya memiliki satu Kawan. Aku bahagia, karena segala yang kupertanyakan selama ini berbuah menjadi jawaban pasti yang ingin kudengar dariNya. Semua diberikan pada hari itu.
Diam, Ariel.. diamlah. Kau hanya bisa tertunduk menyerah saat ini. Janganlah berpikir bahwa kau telah berhasil melarikan diri dari kesalahan yang telah kau lakukan. Apa yang kau harapkan saat ini? Kawan? Kawan yang kau anggap ada selama ini? Mereka tidak ada! Mereka menghilang tepat saat air matamu mengucur pada titik pertama. Mereka berlari menjauh tepat pada saat kau ingin tersenyum melepas segala gundahmu. Ibu? Dia terlalu letih untuk kau berikan cerita pengantar mimpi buruk. Jangan sentuh hatinya dengan tangisan lagi. Detak jantungnya tak sekuat ketika ia berenang dengan pakaian renang polkadot kesayangannya. Lututnya pasti akan kembali terhentak dengan segala tutur yang kau sampaikan.

Tak apa, karena dengan begitu, aku bisa melihatnya meringkuk pada lututNya. Hanya itu yang aku inginkan. Biarlah segala kekalutanku hilang dengan sendirinya. Tenanglah..