Kamis, 21 Juli 2011

Syndrome Ibu Kota..?? Sewagu Dandanan Wadam..

Sape lo?

Lha njenengan sinten to?

Kok elo yang nanya?

Lha nggih wajar to nek kulo sing tanglet, wong sampeyan riyin sing tanglet kulo sinten oq..

Ngomong ape si lo?

Aneh to sampeyan niki. Mangkane to, ngomong sing apik. Ra nganggo boso aneh ngono kui.

Siapa yang salah?

Ada yang salah?

Atau keduanya benar?

Pasti keduanya tidak pernah belajar Bahasa Indonesia, kan?

Atau keduanya tertukar di dunia yang salah?
Yang satu beranjak menuju Jawa, dan yang satu bertolak menuju Jakarta (yang katanya kota labuhan semua mimpi?)?

Atau mungkin mereka bertemu di dalam kereta tua, dan mulai berbincang di Ngapak Zone (karena aku pikir, di daerah itu bokong penumpang mulai pegal, dan mereka mulai mengalah untuk mengajak lawan di depannya untuk bercengkerama)?

Atau mereka sengaja membuka jejaring sosial, kemudian memulai sebuah percakapan yang sulit dimengerti antar keduanya?

Pasti mereka berusaha saling mengerti apa yang dinamakan berkomunikasi dengan bahasa yang dinetralkan.

Pasti mereka masuk dalam taraf making an important point to make some great conversation. At least, they become to be a good listener for the other.

Lho? kok malah keminggris saiki?

Iya ni! Banyak gaya!

Kenapa emang? Ini kan cerita yang aku buat sedemikian rupa, biar kalian-kalian itu tidak bosan. Ga usah protes deh.

Aku belum selesai membuat pengandaian untuk kalian berdua. Begini logikanya, jika aku berusaha memasuki ketakutanku akan Jakarta dengan tulisan ini, maka aku akan menjadi si Jawa yang berusaha berinteraksi dengan bahasa yang lebih baik. Namun jika aku menjadi si Jakarta yang mulai bosan dengan kehidupannya di kota besar itu, maka aku akan berusaha membuat bahasaku lebih enak untuk didengar.

Ini momok yang harus kulunturkan. Dua puluh tiga tahun aku berputar-putar di sekitaran Jakarta. Bayangkan. Dua puluh tiga tahun. Okelah, lima tahun pertama aku tidak sadar bahwa aku berada sepenuhnya di bawah ketek Mama, dan tidak mungkin aku bilang sama dia, “Ma, aku ke Jakarta dong”. Dia pasti berteriak, dan membuangku ke got jika aku melakukannya. Lima tahun berikutnya, aku tidak pernah ditawari untuk berlibur ke sana. Dan aku sama sekali tidak pernah menanyakannya. Lima tahun kemudian, aku tidak pernah melewati masa remaja dengan berasumsi untuk menjadi anak band atau artis terkenal di Jakarta. Dan delapan tahun sisanya, aku hanya meliriknya dari atas kendaraan yang kunaiki. Hanya kulirik, dan tidak pernah terbersit sedikit pun bahwa aku akan menginjakkan kakiku di kota itu. Sama sekali tidak. Tidak sama sekali.

Kalian tahu lagi Sheila on 7 yang berjudul Tunggu Aku di Jakarta? God!! Itu lagu perih yang benar-benar membuat aku harus berpikir bahwa Jakarta adalah satu-satunya tempat yang bisa membuat orang bisa berkembang. Berkembang di sini dalam artian bahwa mereka bisa menjadi orang kaya, paling tidak dalam waktu dua tahun. Berkembang di sini juga bisa diartikan sebagai pengendalian rasa rindu jika salah satu dari dua sejoli berada di kota itu.

Ada apa dengan Jakarta? Apa karena di sana jual kerak telor? Apa karena di sana dijual pakaian dengan merek-merek ternama? Apa karena di sana ada Istana Negara? Apa karena di sana ada artis-artis dengan dandanan yang kadang lebay? Apa karena di sana ada “Gue” dan “Elo” (salah satu penanda anak gaul di mana pun)? Gila, untuk bagian ini, logat kental yang kumiliki tidak akan menjadikanku sebagai anak gaul sepanjang hidup. Untung aku sudah berusia 23 tahun. Jadi paling tidak, aku tidak akan diberi label “anak”.

Seumur hidup, aku tidak pernah melampaui kemampuan kakak perempuanku (kecuali untuk badan yang lebih langsing dan kaki yang lebih panjang). Bahkan, untuk urusan pergi ke Jakarta. Dia sudah berulang kali ke sana, dan dia tetap baik-baik saja. Aku? Hingga hari ini, aku belum memiliki keberanian untuk pergi ke sana. Bayanganku adalah, aku akan dibawa menuju daerah Kemang jika aku bertanya di mana itu Cikini. Bayangangku adalah, aku akan membayar harga 1 mangkok soto dengan nominal 10 mangkok soto di Malang atau Yogyakarta. Bayanganku lagi, aku akan mati kepanasan di dalam angkot, sementara aku bukanlah orang dengan kelenjar keringat yang normal. Tidak, tidak, tidak, tidak!!!! Bayanganku jauh lebih buruk dari kemacetan yang ada di sana.

Ini adalah cerminan rasa takut seorang anak Malang yang belum pernah sama sekali menuju Jakarta.

Lha terus piye, Mbak?

Iya ni. Geje..

Namanya juga sindrom ketakutan. Setidaknya, kalian baru pertama kali menemui orang yang benar-benar takut untuk menuju Jakarta kan? Itu cerita menarik yang bisa kalian ceritakan tauk! Sedikit memalukan sebenarnya, tapi emang bener.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar