Kamis, 07 Juli 2011

Ancang Ancang

Terlalu kuatkah menjadi seorang yang harus selalu tersenyum? Membuat nyamankah apa yang kau lakukan saat ini? Ataukah kau berdiri sebagai satu pribadi canggung yang tak ingin dikenali orang lain? Aku mencoba membuat sebuah awalan baru, dengan kapasitas baru, dan dengan pertimbangan yang tidak cukup mudah untuk diperdebatkan pada akhirnya. Dengan atau tanpa usaha, aku beranjak meninggalkan sebuah kehidupan, tanpa ada tangisan, tanpa ada lamunan semu yang tak ingn kubagikan pada setiap orang yang mengenalku.

Aku menanti saat itu tiba, saat di mana mataku tak lagi dapat melihat raut wajah yang mulai menua. Di mana aku tak dapat berdiri tegak, di mana aku tak bisa lagi mendengar bahwa betapa aku sangat disayangi. Di saat itulah, aku akan melihat siapa yang tersisa. Apakah hanya aku? Ataukah bersama orang yang sangat kurindukan untuk ada di sampingku?

Dua puluh, tiga puluh, empat puluh, atau bahkan sampai tak terhitung lagi jarak waktu yang tak kuingini, aku akan tetap pada jalur yang sama, menjadi seorang wanita, dengan status yang mengikutiku, tetap ingin dikenal sebagai seorang yang kuat. Di mana pun Kau berada, adalah selalu untuk menguatkan aku. Aku hanya ingin mencoba untuk tersenyum. Dan dari sinilah semua berawal. Sebuah senyum untuk memaafkan apa yang membuatku menangis. Hanya karena itu mereka mengenalku. Hanya karena senyum itulah aku menjadi lebih kuat. Aku menang, ketika aku bisa tersenyum, ketika aku bisa menertawakan apa yang pernah menimpaku.

Cobalah membuat sebuah perubahan dengan berkaca pada matamu. Dia akan terus berkaca-kaca jika kau merapatkan bibirmu. Dia akan terus mengeluarkan cairan yang kau namakan dengan kesedihan jika kau terus membuat sebuah penyesalan. Cobalah!

Berusahalah berkata “terima kasih” untuk semua yang pernah kau cicipi, bahkan untuk sebuah hari di mana kepalamu terasa berat untuk mendongak ke depan. Nikmati semuanya. Akan terasa berat, namun akan menjadi sebuah kelegaan ketika pada akhirnya ada yang berkata “kau hebat”.

Dan jika pada akhirnya aku harus berjalan sendiri, maka hanya akan ada aku dan Kau. Hanya Kau, yang akan selalu menyematkan kata takdir di bawah kakiku. Itu artinya, sekali lagi, aku menang. Sekarang, dan kapan pun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar