Kamis, 07 Juli 2011

REPOT SEMBILAN HARI TUJUH MALAM....!!!

Sebuah kisah, atau sebuah cerita yang kadang enggan kubagi adalah ketika aku harus berdiam diri dan tidak mengatakannya pada siapa pun. Dengan berbagai alasan, dengan berbagai pilihan, dengan berbagai keingingan yang terbendung, namun tetap tak bisa disampaikan. Ah, apalah artinya?

Cerita ini akan mulai berarti ketika aku harus menyampaikan kata maaf pada beberapa pihak. Cerita ini akan benar-benar dimulai, ketika semua mata membelalak di depanku. Tetap dengan kata-kata yang sama “HAH? Beneran, Riel?”

Dan saat itu aku hanya tetap diam, menunggu ada yang membantuku untuk menjawab semua pertanyaan konyol itu. Siapa? Siapa yang berkenan membantuku?

Aku berpikir untuk tidak terlalu lama meninggalkan jejak di kota panas ini. Semakin lama aku di sini, maka bau-bau cerita dan keterpendaman itu akan semakin menyeruak di permukaan.

Ih, WAUW.. Apaan si? Kayaknya seru banget ceritanya?

Ow ya iyalah..

Berkenan membagi?

Mana yang kau pilih untuk kuceritakan? Karena semua jawaban dari cerita hidupku itu akan berakhiran dengan kata yang sama. “HAH? Beneran, Riel?”

Kenapa bisa begitu?

Karena aku telah melakukan sebuah pilihan. Kamu pernah baca tulisanku yang berjudul E atau S? Itu yang kulakukan selama ini. Entah benar atau salah, tapi pada akhirnya aku telah membuat sebuah keputusan, jawaban dari beberapa pilihan. Dan aku tidak menyangka bahwa semua jawaban itu membuat beberapa orang, dan banyak orang lainnya terbelalak. Entah mereka terkejut, atau tersedak karena makanan yang dimasukkan dalam kerongkongannya (atau tenggorokan?).

Lalu? Kau mau menceritakan yang bagian mana?

Yang mana ya? BAGAIMANA DENGAN KUNJUNGAN DUA ORANG DARI BANDUNG?

Yang mana saja lah.. Terserah..

Baiklah..

Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai cerita ini. Tapi mau bagaimana lagi. Ada beberapa orang yang perlu tahu, bahwa kedatangan mereka membuat hidupku benar-benar berantakan.

Kamis, 30 Juni 2011

Aku, hanya aku yang mendapat kabar bahwa mereka akan datang ke Yogya (itu menurut Lukvi). Dan menurutnya juga, salah satu alasan terkuat mereka datang ke Yogya adalah untuk menemui Mbak Ariel. Dan hingga tulisan ini termuat, aku tidak mau memercayainya! Karena aku tetap menganggap, bahwa apa yang mereka inginkan adalah merasakan Sungai Elo, bukan bertemu muka Mbak Ariel yang semakin masam dan menciut ketika melihat mereka datang.

Kujelaskan terlebih dahulu. Mereka= dua orang anak Kapinis. Berinisial I (baca saja Indra), dan W (cukup kau baca dengan Wisnu). Kedua anak ini (kusebut anak, karena mereka belum menginjak usia 20 tahun. Dan aku tetap tidak terima pada pernyataan Lukvi, bahwa mereka sudah mengenal yang namanya mengejar mbak-mbak di usia semacam itu) memberi kabar bahwa mereka membulatkan tekat untuk datang ke Yogya.

“Kita ga mau merepotkan Mbak Ariel sama yang lainnya di sana.”

Dalam bayanganku, kata merepotkan di atas dapat diasosiasikan dengan bertemu, makan bersama, dan pergi bersama.

Kalian laki-laki. Dan seharusnya, modal utama laki-laki itu terletak pada tulang di lidahnya. Karena kalian belum cukup umur, maka kuberi tahu ya. Lidah itu memang tak bertulang, jadi wajar jika kalian tetap melakukan hal-hal yang cukup membuatku repot beberapa hari (dan jauh berhari-hari kemudian). AKU MARAH!!!!!!

Seharusnya, ketika kalian benar-benar menginginkan untuk datang ke Yogya dan tidak merepotkan siapa pun, maka kalian tidak perlu menghubungi siapa pun, termasuk aku. Oke? Itu poin pertama yang harus kalian pahami mengenai kata “merepotkan”.

Kedua, aku tidak tahu sejauh mana persiapan kalian untuk datang ke sini. Apakah hanya sekedar gaya yang luar biasa “GAK BANGET’, ataukah kalian benar-benar sudah menyiapkan perbekalan, paling tidak untuk tidur dan makan? JAWAB!!! Kalian tidak menyiapkan sama sekali, kan? Bekal kalian hanya pesan singkat “ga mau merepotkan?”. GOOOODDDD!!! Aku tidak tahu harus menyampaikan kemarahan ini pada siapa lagi.

Please Indra.. Lain kali, kamu jangan berani-berani datang dengan rambut direbonding lagi. Aku sudah menyiapkan gunting kuku untuk memotongnya. Gunting kuku gajah.. Jadi, sekalian kepalamu yang terpotong.

Bertepatan dengan itu, aku harus berdebat dengan salah satu orang yang kukenal. Aku benar-benar merasa kesal ketika aku harus dipojokkan pada situasi yang tidak kulakukan sama sekali. Aku tidak merasa salah ketika “mereka datang dengan alasan Mbak Ariel”. Di mana letak kesalahanku? Karena aku bahagia mereka datang (SEKALI LAGI, AKU BAHAGIA LOH)? Karena aku rela mambagi waktuku yang singkat dengan mereka? Ketika aku harus bingung ke sana dan ke mari, mencari cara termurah untuk membiayai mereka? Ketika untungnya, aku ditemani Lukvi, sementara anak-anak yang lain pergi?

Hingga hari ini berakhir, aku sama sekali tidak menemukan jawaban di mana letak kesalahanku. Hanya marah, marah, dan marah yang bisa kurasakan. Karena mereka, karena Mbak Ariel, karena perdebatan yang seharusnya tidak ada, karena aku tidak membawa celana dalam untuk ganti ketika aku menginap di tempat Lukvi, dan karena pesan singkatku tidak dibalas sama sekali.

Jumat, 1 Juli 2011

Hari wanita. Aku dan Lukvi memutuskan untuk melakukan perawatan diri. Kamu tahu, Yasin? Dia ada bersamaku seharian penuh. Hahahahahahahahaha.. Maaf ya.. Kamu pasti akan semakin menjauhkan aku dari kekasihmu, ketika kamu berhasil menemukan link untuk masuk dalam dunia mayaku. Agagagagagagagaga..

Berjam-jam.. Kami sibuk melulur, mengecat, melakukan segala sesuatu yang membuat kami tidak produktif di kampus. Menyenangkan..

Sore menjelang. Kami mulai membayangkan apa yang terjadi esok hari. Kami belum menyiapkan apa pun, termasuk dana yang harus kami sisihkan untuk mereka (dan akhirnya bukan menyisihkan, tapi menghabiskan).

Kunci utama hari ini adalah “membuat semua pihak menjadi nyaman”. Kami berdua merancang hari kami sedemikian rupa. Membuat semuanya menjadi mungkin untuk dilakukan. Melakukan pengandaian, dan mencari jalan keluar untuk pengandaian itu.

*aku tidak tahu, bahwa semua yang kami andai-andaikan, benar-benar terjadi. Jadi, aku berencana ke rumah Lukvi sebelum aku benar-benar pergi dari Yogya. Aku rasa semua pengandaian kami akan berhasil untuk yang kedua kalinya*.

Membuat semua pihak menjadi nyaman juga tidak mudah ternyata. Apa yang harus kamu lakukan seandainya kamu harus memilih antara teman, keluarga, kekasih, atau dua orang yang tak diundang?

Begitu yang kami rasakan (tapi setidaknya, aku tidak berkutat di kata keluarga). Aku tidak bisa memilih, karena pada akhirnya aku harus melakukan semua hal secara bersamaan. Pertama, aku memastikan bahwa kedua tamu tak diundang itu sampai di tempat dan tangan yang tepat. Kedua, aku memastikan bahwa aku bisa bertemu dengan orang yang kutunggu, dan ketiga, aku memastikan bahwa temanku tidak seorang diri ketika menemani kedua tamu tersebut. Bayangkan!

Sabtu, 2 Juli 2011

Hari ini akan ada beberapa bagian yang harus dihilangkan. Kembali lagi, alasannya adalah untuk membuat beberapa pihak yang terlibat tetap merasa aman dan nyaman. Apa yang kami andai-andaikan benar-benar terjadi. Tepat, dan tidak ada satu pun yang di luar rencana! Semuanya sama persis. Hebat! Atau hanya sebuah pengaminan dari harapan yang kami sampaikan?

Inti dari semua yang kami rencanakan ada di tahap ini. Dan besok..

Aku malas bercerita dan mengingatnya. Aku tidak suka. Benar-benar tidak suka dengan sebuah keadaan yang tidak terencana.

Minggu, 3 Juli 2011

Cukuplah aku tahu bahwa apa yang kami persiapkan ternyata tidak mencukupi. Kalian tahu?

Ibuku baru saja mengirim 450 ribu pada hari Kamis. Itu adalah biaya hidup hingga tanggal 15 Juli. 12 hari lagi. Dan hari ini, uang itu menyusut menjadi 50 ribu. Wauw.. Amazing! (pas banget sama lagu yang dinyanyikan sama Aerosmith sekarang. Dan aku benar-benar ingat. Aku hanya menguranginya untuk bensin full tank, dua bungkus rokok, dan makan ala kadarnya (kecuali hari Sabtu, karena aku tidak mengeluarkan biaya apa pun hari itu). Sisanya? Raib.. Di tangan orang lain.

Aku pelit? Iya.. Aku perhitungan? Sangat iya..

Jika aku memiliki pemasukan lain, aku sama sekali tidak akan mengeluarkan komentar. Aku sama sekali tidak akan kebingungan menjalani hidup hingga tanggal 15 besok, dan aku sama sekali tidak akan marah.

Aku baru saja berhasil menaikkan bobot badanku hingga tiga kilogram. Itu adalah sejarah yang patut dicatat. Dua celana jeansku tidak muat untuk dipakai. Tapi sekarang? Bobot itu kembali lagi di angka 55 kilogram. Artinya? Aku sama sekali tidak bahagia!

Senin, 4 Juli 2011

Hari berat berikutnya. Messing day. Bungee jumping membuat saluran telingaku menjadi penuh air. Mengerikan dan menyakitkan. Tidak perlu dibahas bagian ini. Hanya pengarungan biasa, dengan tawa yang terkesan dipaksakan.

Aku harus menekan rasa malu ketika harus berkata pada beberapa orang “nyuwun tulung.. karena kita tidak punya biaya..”. Sampai segitunya. Karena apa? Karena tidak ada satu pun di antara kami yang ingin mengecewakan hari mereka. Pantaskah ketika tamu datang, dan kita mengatakan bahwa kami tidak memiliki biaya sama sekali untuk mendanai mereka? Pantaskah ketika ada tamu datang, dan aku harus mendengar “tamune sopo je? Duitku wis entek nggo nguripi”. Baiklah. Baiklah. Maaf untuk penempatan yang salah. Seharusnya aku tidak menempatkan mereka di Setrajana. Maaf untuk itu.

Untunglah kalian pulang hari ini. Jika tidak, maaf saja, aku lepas tangan.
Aku tidak tahu. Hingga hari ini aku tidak bisa melepas rasa marah dengan legowo.
Aku belum pernah merasa dirugikan semacam ini. Hanya karena pemikiran singkat, jangan sampai merepotkan orang lain, pikirkan itu.

MEREPOTKAN..!!!!!!!

Aku bukan orang yang bisa dengan mudah mengatakan “tidak”. Dan kadang, aku semakin menjadi bodoh, yang selalu, dan akan selalu diberi cap sebagai orang yang bisa dibodohi dengan mudah.

Mungkin itu yang membuatku marah. Bisa saja dari awal aku memberi penjelasan singkat “kalian jangan ke sini. Bukan saat yang tepat, dan tidak ada yang bisa menemani kalian.” Mudah kan? Tapi aku tidak melakukannya. Karena apa? Karena aku tidak bisa melakukannya. Sampai kapan pun, aku akan sulit mengatakan “tidak”, dan hanya bisa marah dengan cara seperti ini.

Selasa, 5 Juli 2011

Mulai hari ini dan entah sampai kapan. Aku tidak tahu bagaimana aku harus makan atau memenuhi kebutuhan hidupku yang lain.. Menyedihkan.. Dan aku masih tetap marah dan tidak mau menerima apa yang sudah terjadi. Luke, sepertinya kita ga bisa zakat mol untuk beberapa hari ini..

Sepele, tapi menyebalkan!!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar