Sabtu, 08 Januari 2011

18 Desember..

Jika kali ini aku bersua dengan dentingan piano dan setitik air anggur,maka percayalah, bahwa hal itu adalah saat terjujur ketika bibirku hanya bisa terdiam. Sayangnya, aku tak bisa melakukannya dengan baik. Tak bisa hidungku mencium aroma rempah pedas yang disampaikan pada ujung gelas tinggi berparas sembilu. Belum bisa, jariku bergerak merapat dengan lentingan manis yang semakin merujuk pada tepuk dan teriakan gembira. Namun, aku tetap berusaha menjadi tuan atas diriku. Tanpa memperhitungkan dengan atau tanpanya.

Begitu bulat kemarahanku saat itu. Dengan segala keberanian, aku hanya ingin mengungkap sebuah kebenaran, bahwa kau kalah pada pilihanmu. Namun apa yang bisa kusampaikan, aku hanya bisa melihat mata sayu yang kau hampirkan pada kalut kesombongan yang terpaku pada bola mataku. Hembusan nafas pilu kuhaturkan pada kekesalan yang membumbung bersama dengan ketakutanmu.

Kupikir saat indah itu akhirnya datang. Aku bahagia melihatnya meringkuk pasrah pada dekapan kuasaNya. Aku bahagia, karena dengan begitu ia hanya memiliki satu Kawan. Aku bahagia, karena segala yang kupertanyakan selama ini berbuah menjadi jawaban pasti yang ingin kudengar dariNya. Semua diberikan pada hari itu.
Diam, Ariel.. diamlah. Kau hanya bisa tertunduk menyerah saat ini. Janganlah berpikir bahwa kau telah berhasil melarikan diri dari kesalahan yang telah kau lakukan. Apa yang kau harapkan saat ini? Kawan? Kawan yang kau anggap ada selama ini? Mereka tidak ada! Mereka menghilang tepat saat air matamu mengucur pada titik pertama. Mereka berlari menjauh tepat pada saat kau ingin tersenyum melepas segala gundahmu. Ibu? Dia terlalu letih untuk kau berikan cerita pengantar mimpi buruk. Jangan sentuh hatinya dengan tangisan lagi. Detak jantungnya tak sekuat ketika ia berenang dengan pakaian renang polkadot kesayangannya. Lututnya pasti akan kembali terhentak dengan segala tutur yang kau sampaikan.

Tak apa, karena dengan begitu, aku bisa melihatnya meringkuk pada lututNya. Hanya itu yang aku inginkan. Biarlah segala kekalutanku hilang dengan sendirinya. Tenanglah..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar