Sabtu, 08 Januari 2011

Aku Mengantuk Menunggu Sebuah JAWABAN

Kurasa yang kubutuhkan saat ini hanyalah sedikit titik kesabaran. Tidak ada satu pun yang peduli ketika aku hanya bisa tersembab dan terdiam melihat bumi berputar dan mencoba menarikku untuk bergabung bersamanya di lantai tanah basah. Nafasku tersendat dan terpaku pada gantungan satu-satu hitungan jari. Mataku hanya berkedip memandang langkah kakiku yang semakin gontai. Tak ada sedikit pun fungsi nama itu terpapar dalam hidupku saat ini. Katanya, namaku itu berarti singa, penguasa hutan, dan tak ada satu pun yang bisa menghentikannya. BOHONG! Jika nafasku terhenti oleh kejamnya zaman, tentu aumanku tak akan menggetarkan bulu rusa yang kuburu.

Bukan berarti aku menyalahkan keadaan. Namun yang kurasakan saat ini tak lebih hanyalah suasana berkabung tanpa arti yang bermakna. Tak ada satu pun hari yang bisa kuambil sebagai pelajaran. Bukan kebersihan yang kupelajari, bukan tangis pagi yang kunanti setiap tanganku bergerak membuka cakrawala, bukan lantai bersih yang kuinjak tanpa tangis yang membuatnya berkilap, bukan juga pakaian kotor yang kupindai sebagai pemindah tenaga. Hari demi hari, tanganku semakin tak mencukupi untuk menghitung, menggenapi sejumlah waktu yang kutepati sebagai janji untuk menjadi temanku di tempat ini.

Sejenak aku hanya berkeinginan untuk menyapa buku-buku kumal yang tak berharga bagi orang lain, sekejap aku hanya ingin melangkahkan kaki menghisap aroma lain dunia, sedetik saja aku ingin meluangkan waktu melihat pagelaran kecil tentang kehidupan bersama tetua yang mungkin telah menunggu kehadiranku di gedung itu. Namun kurasa, ada orang lain yang sedang meminjam waktu yang kutunggu itu. Dia mencoba meraup goyangan sang fajar, hingga begitu lamanya ia tenggelam.

Rintihanku tak saja membuatku semakin mengecil dan tenggelam dalam buliran pasir waktu, kurasakan dia semakin mengeras, mendekapku semakin kuat dalam sebuah tempat yang tak ingin kukenal. Tempat ini sama saja panasnya, tak bergairah, dan sama sekali tak pernah membuaiku memberikan arahan yang kuperlukan. Sesekali dia hanya berkata ”rasakan kau! Itulah yang kau dapatkan dari sebuah kata yang tak kau pikirkan.”

Apa yang tak kupikirkan sebelumnya? Sesungguhnya aku merasakan sebuah pinangan kehidupan, ada yang menggelitik telingaku, dia menjerit ”KAU DITIPU!”
Mendadak aku hanya bisa diam, berdiri mematung, melirik ke arah kiri dan kanan, bergeliat ketakutan, merintih pada dinding yang tak pernah kulihat sekali pun tersenyum memberiku semangat. Darahku kadang memanas jika melihat awakku menjadi kurus dan tak berisi. Tak pernah mataku diberinya waktu untuk berhenti mengeluarkan air. Tak pernah kasiaanya ia padaku.

Jika kukatubkan mataku, aku melihat si kecil bernyanyi dan terus memanggilku. Dia tertawa dan mencoba merengkuhku pada kehidupan lampau. Dia yang tak pernah merasa gentar dengan apa yang ada di hadapannya, dia yang terus berlari meski jarak panjang memisahkan pergelangan kakinya, dia yang bersenda gurau tanpa kegelisahan yang menangkupinya. Sama sekali tak berbeban. Namun begitu jahatnya matahari itu. Dalam sekejap tawa si kecil itu memudar, berbalik menyungging tanpa arti, menghujat penuh amarah tanpa memikirkan apa yang dilakukannya. Si kecil itu tak pernah sekalipun kutemui berbalik dan tinggal menemaninya.

Adakah pandangan itu melebihi langit? Adakah ruangan di atas sana, yang jika boleh kuatur, aku menginginkan sebuah ruang kecil penuh tawa dan kegembiraan, tanpa adanya belitan tangis? Apakah aku harus menjilat tanah busuk dan mengayuh angin agar aku sampai ke tempat itu? katakan padaku dengan jujur, hai kau!

Terakhir aku bertanya pada seseorang. Dia memberi jawab kepadaku,”maaf, Dia tak pernah sekali pun berkata-kata di depanku, tak pernah sekali pun mendekat padaku meski dalam jarak dekapan rindu, jadi aku tak bisa mengenalkannya padamu”. Katakan, siapa Dia? Katakan padaku juga, bagaimana aku harus menyampaikan kegetiran yang kurasakan? Kata banyak orang, Dia adalah kawan bicara yang paling bisa dipercaya, tak pernah menyakiti dan selalu bisa membuatku tersenyum. Benarkah ada Seseorang yang seperti itu? Kau, kau yang harus bertanggung jawab atas sukmaku saat ini! Dia terus bergeliat mencoba keluar, namun belum kuizinkan. Aku mohon, sebelum dia keluar dan menjarah milik orang lain, biarkan dia tetap tinggal dalamku, mungkin kau bisa kenalkan aku dengan Seseorang itu. Aku ingin mencoba bertanya padanya, satu hal saja ”akankah sukmaku harus terus gelisah dan beraut sendu? Jika ya, cukupkah satu titik kesabaran itu membayar hutangnya padaMu?”
Jawablah..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar