Sabtu, 25 Agustus 2012

Waktu Indonesia Bagian Melouw..


Well, when you see me criying, don’t let my tears fall in vain..
Lord, I don’t know what to do.. You know my heart filled with pain..
Whoa.. When you hear me howlin’, baby..
You know it hurts way down inside..
-I Can’t Quit You, Willie Dixon-


Kolam renang UNY, 24 Agustus 2012..

Ini adalah saat pertama di mana aku menjajal khasiat kacamata renang bermerk Cina. Kacamata renang berwana putih, salah satu hadiah ulang tahun yang kuterima satu bulan yang lalu. Tidak terlalu buruk kurasa. Tidak ada air yang tiba-tiba masuk melalui sela di kiri dan kanannya, tidak ada celah yang tersisa untuk membuat mataku tetap kemasukan air berkaporit. Waktu pulang pun, mataku tetap berwarna putih dan hitam, tanpa sedikit pun tercampur warna kemerahan.

Untuk ukuran pola hidup sepertiku, paru-paru yang tidak lagi sehat, ditambah usia, dan sedikit niat yang tersisa, ternyata bolak-balik kolam renang berpanjang 100 meter itu masih bisa kulakoni. Dengan kacamata itu, aku bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalam kolam renang (sebenarnya tidak ada apa-apanya sih..). Hanya garis pembatas berwarna hitam di bagian bawah, kaki-kaki penghuni kolam yang asyik bergerak-gerak, dan kotoran yang melayang-layang. Karena aku memakai kacamata, yang bisa kulihat hanya bagian depan. Aku sedikit kesulitan untuk melihat bagian samping kiri dan kananku. Bisa sebenarnya, tapi aku harus menoleh untuk bisa melihatnya. Aku bergerak perlahan, mengatur irama gerakan, mensejajarkan gerakanku dengan garis hitam yang ada di bawahku, dan mencoba untuk tidak melihat kiri kanan. Karena aku bukan atlet renang, yang bisa kulakukan untuk mencapai panjang 100 meter itu adalah tetap fokus dalam mengatur nafasku. Ketika aku mencoba untuk membagi pikiranku dengan hal-hal yang tidak ingin kupikirkan, yang terjadi adalah aku tidak bisa mengambil nafas dengan baik. Dadaku sesak, dan aku terpaksa menelan sedikit kaporit.

Begini yang ada dalam pikiranku saat itu..

Kacamata ini oke juga ternyata. Aku ga bisa liat kiri kanan. Yang bisa aku lihat cuma bagian depan aja. Kaya kacamata kuda, ya? Mereka diharuskan memakai kacamata sebesar itu biar ga lihat kejadian yang ada di kiri kanannya. Yang harus dia lakukan hanya berjalan dan membawa beban di punggungnya. Gimana kalo aku pake kacamata ini di darat? Meskipun ga oke, tapi at least, aku bisa tetap fokus untuk menjalani apa yang ada di depan. Ga peduli sama samping kiri kanan. HAOP!! Air tertelan sedikit.. tapi apa gunanya juga? Toh yang berperan penting bukan mata, tapi pikiran. Ada ga si yang bisa buat kacamata untuk otak? Jadi, pikrian kita bisa diset untuk tetap fokus dengan apa yang ada di depan kita, bukan omongan orang atau apa yang kita lihat. Oh, berarti ketambahan kacamata untuk telinga. Gilak! Pasti bakal ngalahin Lady Gaga waktu aku pake kacamata renteng-renteng gitu. Bukan ide yang bagus kayaknya.. HAP!! Bibir semakin membuka lebar untuk mengambil nafas (artinya, irama nafas sudah tidak beraturan). FUCK OFF!!! Aku kenapa sih????? Thanx God, aku masih bisa menyentuh dinding kolam di seberang.

Aku melanjutkan pikiranku setelahnya, waktu berbilas di kamar mandi putri. Bagi yang belum tahu apa yang terjadi di dalamnya, aku beri tahu. Banyak atlet senam indah di kamar mandi itu. Kalian tahu pesenam-pesenam itu? Berputar-putar di dalam kolam, menaikkan kaki jenjang mereka ke atas, bergandengan, dan selalu membuat mulut banyak orang berdecak kagum pada mereka. Ada salah satu pengunjung kolam meniru gaya mereka. Dengan kaki yang luar biasa besar, ditambah bulu-bulu tebal di kakinya, dia hanya mengundang gelak dan pikiran “apaan sih?”. Pesenam-pesenam itu selalu menyelesaikan latihannya tepat pukul 19.00. Mereka tidak pernah mau mengalah dengan pengunjung lainnya. Dengan teknis ala pemudik, mereka menyerobot pancuran yang kosong atau masih berisi. Dan kalian tahu apa yang terjadi beberapa detik kemudian? Mereka akan dengan santainya telanjang bulat di bawah pancuran itu. GOD! Ini bukan Bali kali nek.. Hmmmm, dada mereka kecil, dan bentuk badannya sungguh aneh, penuh otot dan tidak memiliki bulu vagina (mungkin mereka sudah persiapan di rumah, sebelum memaksakan diri untuk mengikuti mode mandi telanjang di kamar mandi umum).

Mereka sungguh merusak pikiranku waktu itu. Meski hanya hal sepele yang kupikirkan saat aku keramas..
Aku berhutang banyak pada kehidupan. Banyak janji yang belum kulakukan. Aku berpikir singkat. Ada start, ada finish. Apa pun yang terjadi di tengahnya, aku harus tetap mencapai finish. Setelah itu, rombongan gadis mengerikan itu datang, dan memecah konsentrasiku. Aku lebih memilih untuk segera masuk ke ruang ganti, dan meninggalkan tempat aneh itu.

Aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupku di kemudian hari. Apakah aku masih memiliki kulit coklat, apakah aku masih bisa berjalan-jalan sesuka hatiku, apakah aku masih suka marah dan diam, apakah aku masih tidak suka makan ikan, apakah aku masih bergulat dengan orang-orang yang sama, apakah aku masih tinggal di Yogyakarta dan bisa melihat gadis-gadis aneh tadi, apakah aku masih suka mengeluh jika panas terlalu mennyengat, apakah aku masih bisa menuliskan apa yang kuinginkan dan bisa dibaca oleh banyak orang, apakah aku masih aku yang sekarang?

Setelah sekian lama aku bisa kembali normal, aku kembali menemukan Ariel yang jalan sedikit terseok. Kakiku berat. Seaakan dihentikan untuk sementara waktu. Aku tidak lagi memiliki teman yang bisa kupercaya untuk berbagi. Sebentar lagi, salah satu teman yang senang mendengar aku bercerita, akan dikirim ke luar dari Pulau Jawa, dan aku harus bersiap untuk itu. Kertas-kertas akan semakin banyak bertumpuk. Entah dengan tulisan yang semakin menggoda, atau bahkan menjadi tidak berwarna.
Hidup baru saja dimulai. Usiaku masih menempati kepala dua. Masih belum banyak artinya jika dibanding tetua-tetua yang seakan tahu tentang berbagai macam hal. Itu artinya, masih akan ada (sekitar) tiga puluh tahun lagi untuk berbagi dengan kertas-kertasku. Saat itu tiba, aku akan memastikan bahwa, apa yang kutulis tidak dengan nada yang sama, tidak dengan warna yang sama, dan akan semakin membaik.

Jujur, aku sedikit takut..

Takut untuk memulai cerita-cerita baru itu.

Aku memulainya dengan sedikit tangisan, dan aku berharap, bahwa pada akhirnya, air mata itu tidak akan terbuang sia-sia.

-Untuk sebuah hidup-
Kehidupan, dan..
Orang-orang yang membuatku hidup..






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar