Senin, 27 Agustus 2012

Menunggu Granglaunching Burjos.. (Efek Kelaparan. Harusnya Grandlaunching)


Baiklah..

Hari ini, saya memulai menulis dengan meneliti kembali postingan blog saya (berjudul Sedikit Menyadur Judul.. Dear God). Ada beberapa kesalahan yang tampak di sana. Dan kesalahan ini, saya indikasikan sebagai kesalahan modem merk AHA. Berikut daftar kesalahan yang saya buat.
    
    Karena koneksi jaringan yang lemot, saya memosting tulisan dengan judul yang sama sampai tiga kali. Blogspot waktu itu bilang begini "an error occured while trying to save or publish your post. Please try again”. Karena saya cukup peduli dengan himbauan itu, maka saya putuskan untuk me-resend tulisan itu (lihat! Betapa saya inginnya tulisan itu termuat dengan apik di dalam blog saya. Meskipun saya sadar, saya belum punya banyak pengikut). Alhasil, tulisan itu ternyata muncul tiga kali di blog saya (saya tidak akan menghapusnya. Hal itu akan menjadi bukti kuat terhadap poin pertama ini).
2
          Pada paragraf terakhir, saya menemukan bahwa, saya telah menuliskan kata yang seharusnya ditulis dengan “Twitter“ menjadi “Tweeter”. Oke.. Hal tersebut menunjukkan bahwa saya cukup gaptek dalam hubungannya dengan dunia maya. Mungkin akan sama dengan balita yang berusaha mengatakan “kenapa”  dengan “kenak-apa”.

Itu tadi sebagai pembuka saja. Jujur, saya tidak memiliki ide yang segar untuk menulis postingan ini. Ternyata memang benar, makan adalah penunjang tenaga dan pikiran yang cukup besar. Bodohnya, kali ini saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa soal makan.

Saya belum makan. Itu akan saya jadikan inti tulisan kali ini. Jadi, seperti yang dilakukan oleh Blogspot, saya akan memberikan peringatan pada kalian yang membaca tulisan saya. Tulisan ini mungkin sedikti tidak berisi dan acak adul, mengingat saya belum makan semenjak pukul 14.00 tadi. Bayangkan! Itu adalah sarapan sekaligus makan siang saya. Dan kedua rutinitas yang dijadikan satu itu, hanya saya isi dengan Lontong Sayur. Lebih dari delapan jam saya tidak mendapat asupan lagi.

Efek buruk yang saya rasakan sekarang adalah:

1.       Saya ingin menggampar siapa pun yang memulai sebuah kejadian yang saya anggap menyebalkan. Ini adalah efek emosional yang sangat lazim ditemui ketika orang belum makan seharian. Jadi wajarlah, bila ada berita yang memunculkan cerita “ibu membunuh anaknya”. Mungkin waktu itu kejadiannya sama, ibu itu belum makan sejak tiga hari, anaknya tiba-tiba tidak sengaja menyenggolnya, dan ibu itu mencekik leher anaknya. Ketika saya menulis kata menggampar, berarti itu adalah efek sederhana. Jika dalam dua jam ke depan saya belum juga makan, mungkin saya akan memulai dengan menguliti manusia yang ada di samping saya.

2.       Saya adalah seorang perokok berat. Kenikmatan yang saya temui ketika merokok adalah, mulut akan terasa asam ketika selesai makan tidak merokok. Ini sebenarnya hanyalah sugesti singkat yang ditemui pada banyak pihak. Ada kalanya, jika saya berada di rumah orang tua saya, saya tentu tidak akan bisa merokok setelah makan. Dan itu tidak membuat saya terlalu gelisah. Yang membuat saya gelisah adalah, jika saya ketauan merokok, mungkin saya akan dicoret dari daftar warisan orang tua saya.

3.       Saya akan sensitif luar biasa. Sepertinya, orang-orang yang ada di sebelah saya menjadi sosok yang sangat menyebalkan (meskipun saya tidak bersama siapa pun saat ini). Tapi saya memiliki handphone yang bisa saya pakai untuk menghubungan saya dengan siapa pun. Dan itulah yang terjadi. Ketika saya mengirimkan text message, jawaban yang seharusnya “biasa saja” akan berubah menjadi “ya iyaaaalaaahh salahmu sendiri kenapa ga makan dari tadi? Kenapa harus nunggu orang kerja?”.

4.       Saya benar-benar tidak suka ketika Aa’ dan teteh burjo pergi terlalu lama. Mereka adalah penolong sejati untuk makhluk-makhluk seperti saya. Makhluk di sini= sering kelaparan, malas keluar kalau kena kasur, dan irit biaya. Seharusnya, menurut jadwal pulang kampung bersama I*****e, mereka akan tiba lagi di Yogyakarta pukul 05.00, empat jam dari sekarang. Jika ditambah waktu untuk melepas lelah, memasak makanan selain mie rebus, membersihkan warung, dan beberapa tetek bengek yang lain, mereka baru buka pada 29 Agustus 2012. Saya tidak ingin menggorok leher orang yang saya anggap menyebalkan di jam-jam pembukaan burjo itu.

5.       Saya jadi tidak bisa tidur. Selain karena saya sudah tidur (ketiduran lebih tepatnya) pada pukul 20.00 sampai 22.00 tadi, perut saya terus berbunyi. Krucuk, krucuk, krucuk, krucuk.. dan sedikit sakit. Hal yang paling enak untuk dibayangkan pada saat-saat ini adalah, saya berada di Malang. Jika saya lapar, saya tinggal ke dapur, mengambil piring, membuka rice cooker, mengambil nasi, mengambil telur, menggorengnya, dan makan pake kecap. # Saya tidak bisa membayangkan pemulung dan sebangsanya yang ada di pinggiran jalan itu. Mereka suka melakukan perjalanan di malam hari. Mungkin mereka melakukannya karena alasan yang sama dengan saya. Belum makan, dan tidak bisa tidur. Saya belum makan, dan menulis (Wah! Terlihat berpendidikan sekali). 

6.        Saya tidak bisa mengetik dengan cepat. Ada banyak kata yang salah pengejaan. Dan saya harus berulang kali menekan tombol backspace untuk memperbaikinya.

7.       Saya ingin memakan semua baju yang saya gantung tepat di hadapan saya. Di situ banyak nyamuk yang bersarang sepertinya.

Dan efek paling akhir adalah, saya tidak tahu harus mengakhiri tulisan ini dengan kata-kata apa.

Parah!!!!!!


   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar