Jumat, 17 Agustus 2012

Selamat Ulang Tahun, Indonesia...!!



Aku yakin, akan ada begitu banyak orang yang memberimu selamat hari ini. Dengan segala bentuknya, dengan segala keinginannya, dengan segala cerita yang ingin disampaikan. Sama sepertiku. Aku ingin memberimu sedikit pengertian sebenarnya. Tidak ada yang aku lakukan untukmu hari ini. Aku tidak berbaris rapi membawa bendera untuk dikibarkan. Aku tidak berdiri memakai topi untuk mendengar guruku berceramah tentang moral murid yang semakin melorot. Aku tidak mengibarkan bendera di depan kamarku. Aku tidak ikut dalam lomba RT atau RW. Aku juga tidak keluar dari kamar kosku sampai pukul 14.00 tadi. Tidak ada hal istimewa yang kulakukan hari ini. Maka dari itu, aku memberanikan diri untuk menyelamati 67 tahun usiamu dengan cara seperti ini.

Jika kucermati lebih lanjut, ternyata semua proses ini baru saja dimulai. Sebuah proses yang mungkin akan jauh lebih penting dari pada memasang lambing (lambang maksudku) keperkasaan di depan pintu kamarku, atau sekedar berdiri dan bahkan tidak mendengar dengan baik apa yang disampaikan oleh inspektur upacara. Seperti sederetan kambing congek yang sengaja dipasang untuk pelengkap hari kemerdekaan. Berjajar rapi belum tentu bisa memahami arti kemerdekaan dengan baik, bukan?

Aku yakin, hanya sebagian dari mereka yang akan berucap syukur bahwa Indonesia masih bisa berdiri di atas dudukan kayu yang sudah semakin rapuh. Hanya sebagian kecil yang percaya dan yakin bahwa kemerdekaan itu diraih untuk membuka mata kami, sebagai kaum yang dimerdekakan dari orang-ornag terdahulu. Seperti laiknya para tetua yang selalu dimunculkan dalam profil televisi swasta.  Biasanya, orang-orang itu adalah para veteran yang “tinggal” di rumah yang tidak bisa kukatakan sebagai rumah. Atau mungkin, sosok lain yang dianggap berjasa oleh pemerintah. Hanya dianggap saja. Tidak lagi diperdulikan sebagai sosok yang justru memiliki doa paling besar dibanding manusia-manusia yang berdiri tegak di atas lapangan yang semakin memanas. Aku bisa mengatakannya seperti ini. Mereka dimunculkan, dan kadang dibantu. Agar masyarakat masih bisa berkata demikian “oh, ternyata masih ada yang peduli dengan mereka”. Setelah itu, semuanya akan berjalan seperti biasanya. Orang-orang itu akan tetap hidup dalam kebanggaan yang akan mereka pendam seumur hidup.

Yang tinggi semakin sibuk mencerna dari mana lagi aku bisa mendapat harta. Yang kecil hanya bisa geleng-geleng kepala, dan berharap bahwa esok hari perut mereka masih bisa diisi dengan sepuluk nasi. Bahkan ketika nasi itu pun telah mengeluarkan lendir.

Sama saja dengan aku saat ini. Aku tidak terlalu memikirkan apa yang diartikan sebagai sebuah kebebasan atau apa pun namanya. Kadang, jika aku bisa merunut ulang apa yang pernah kuanggap sebagai sebuah pembelajaran, aku hanya bisa tertawa. Sebegitunya aku dibuat terpelanting ke sana dan ke mari. Aku diberi banyak pilihan dan kebebasan untuk melakukan apa yang ingin aku jadikan keputusan. Aku menarik nafas panjang, menghembuskannya, mencoba menutup mata sejenak, kadang diiringi dengan sedikit air mata busuk, membuka kembali, dan tidak ada yang berubah. Ternyata tidak ada yang berubah ketika aku hanya berusaha untuk tidak mau tahu.

Bodoh, sungguh bodoh aku pikir. Gandum tidak akan menjadi tepung jika hanya dipandangi sekian hari.

Ariel…

Jika saja aku bisa membayangkan seperti ini. Orang-orang yang hidup di atas tadi tentu memiliki sebuah kendala berat dalam hidupnya. Mau atau tidak mau, mereka hanya akan berkawan dengan Dia. Aku yakin, bahkan aku pun tidak akan memikirkan mereka setiap hari. Jadi, kesimpulannya adalah, mereka hanya bisa berkeluh dengan si Pemilik Hidup. Mungkin dengan begitu, mereka bisa merengek untuk sedikit diubah jalan hidupnya.

Aku juga tidak tahu bagaimana cerita itu dituliskan untuk manusia. Apakah seperti aku ini?

Menulis jika benar-benar ada mood untuk melakukannya. Karena dengan begitu, hasil tulisan itu akan enak untuk dibaca dan didengarkan. Pasti, waktu Dia menulis cerita untuk orang-orang itu, Dia sedang bingung. Jadi, cerita yang dihasilkan hanya akan membuat orang yang membacanya mengernyitkan dahi.

Hmmmm.. Iya ga sih?

Aku harap, Dia tidak langsung membalas tulisanku kali ini. Dia pasti tidak mau kalah denganku. Jika aku tidak mau kalah, yang aku lakukan sekarang adalah langsung membalas tulisan ini. Tapi masalahnya, tidak mau kalah adalah sebagian dari bentukan nafsu. Bukan nafsu yang diharapkan menjadi penyelesai suatu masalah. Jadi, aku masih berharap bahwa Dia hanya tersenyum ketika melihatku menulis saat ini. Harapanku yang lain adalah, Dia masih sibuk mengetik atau menghapus cerita milik manusia lain.

Heloooowww!! Siapa kamu, Ariel??

Lagian tema kali ini adalah kebebasan, bukan? Jadi, suka-suka Dia dong mau menulis apa tentang kamu. Bisa saja setelah kamu mematikan lappyta, Dia akan membalas semua pertanyaanmu. Seperti biasa, bukan dengan cara-cara yang umum untuk dilakukan.  Dia tahu pasti bagaimana kamu membenci sebuah keragaman.

Huffft.. Iyaaa..

Hei, Indonesia!

Selamat ulang tahun ya.. Apa pun alasannya, seharusnya kamu masih bisa berbangga, karena masih ada yang mengais hidup dari dalammu. Mungkin ada sebagian orang seperti aku, yang mengejekmu habis-habisan, dan merasa semakin tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Tapi ingatlah, masih ada orang-orang yang peduli denganmu. Mendoakanmu setiap saat, bersamaan dengan bunyi keroncongan perut mereka. Sanggahlah mereka dengan sisa tenaga yang kau miliki, Indonesia.

Cerita untuk kita baru saja dimulai. Aku untuk aku, dan ulang tahunmu untuk mereka.

(Aku berharap, Dia tidak melihatku sedang membuat tulisan ini. Ssssttt..)







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar