Selasa, 13 September 2011

Rumahku, Republikku (mu)...

Sebuah pesan singkat yang sama sekali tidak kunyana bisa keluar dari bibir ayahku. Seorang pendiam yang sama sekali tidak pernah memberikan wejangan, bahkan ketika anaknya harus berada dalam titik buruk dalam hidupnya.

“Siapa yang mau melarang kamu telanjang di rumahmu sendiri? Bahkan SBY pun bisa kamu usir dari rumahmu..”

Setelah itu dia diam.

Aku juga diam. Bola mataku sibuk berputar mengikuti gerakan tangannya menaikturunkan sangkar burung dan membawanya ke halaman belakang untuk dibersihkan. Sesekali ia mampir ke dapur untuk mengambil tempe yang baru digoreng ibuku.

Seharusnya pikiranku tidak hanya berhenti pada pemandangan biasa yang sering terjadi di dalam rumahku. Ayah dan ibuku sengaja merancang bentukan dapur dan halaman belakang untuk saling berhadapan. Hanya ada pembatas kaca bening di antaranya. Dari kaca itu, ibuku bisa tetap menggoreng, merebus, memotong, membuka lemari pendingin, atau apa pun itulah namanya sembari menanyakan hal-hal sepele pada bapakku yang asyik menyembur-nyembur makanan burung supaya kulit Cannary Set yang tidak dibutuhkan bisa jatuh. Aku melewatkan poin penting apa yang dimaksud oleh si Bapak. Mengapa dia menyebutkan nama SBY (dia tidak terlalu baik untuk bisa memasuki rumah kami. Aku yakin ibuku akan luar biasa terkejut ketika melihat mobil-mobil patroli berbaris mulai dari depan rumah kami hingga sungai yang melintas di ujung jalan. “Pah,Pah. Opo kui? Ono opo to, Pa?” Dan orang-orang yang berdiam di rumahku tidak ada yang menyukai kegiatan ingin tahu ibuku itu.)

Aku harus memajukan otakku untuk sedikit mengerti apa yang dimaksudkan olehnya, sehingga mulut si Bapak bisa mengeluarkan pesan tadi. Setelah menimbang-nimbang, pikiranku lari pada beberapa rumah di sekitaranku.

Tetangga sebelah kiri rumahku. Bangunannya tingkat, pagarnya berwarna merah (kalau belum berubah). Aku tidak tahu berapa luas tanahnya, aku rasa sama dengan rumahku, karena aku tinggal di kompleks perumahan. Tapi tetap saja, hingga sebesar ini, aku tidak tahu luas tanah dan bangunan rumahku menginjak angka berapa. Pun dengan bangunan tetanggaku itu. Di dalamnya dihuni empat orang. Ayah, Ibu, dan dua anak laki-laki. Aku ingat benar, nama anak yang pertama adalah Iril. Hanya beda satu huruf dengan namaku. Ibunya bilang, dia suka melihat tingkahku waktu aku kecil, maka dipakailah namaku untuk anaknya (meskipun sedikit berbeda, namun ia tetap menggunakan sebagian dari namaku dan mengganti huruf depannya, karena dia baru sadar bahwa aku ini adalah perempuan, bukan seperti anaknya yang berkelamin lelaki).

Dan nama anak yang kedua adalah Raka. Sekarang keduanya telah beranjak besar, dan tidak lagi suka membuka semua pakaiannya kemudian lari-lari di dalam rumahnya. Biasanya mereka melakukan ritual pemanggilan namaku dengan adegan telanjang itu. “Mbak Ariel, main yuuuk...” . Mereka akan selalu melakukan hal yang sama ketika sore. Berdiri di pembatas rumah kami sambil berteriak-teriak mengajakku bermain bersama mereka. Aku heran, apakah mereka tidak berpikir bahwa yang diajaknya bermain adalah remaja SMA yang tidak selayaknya diajak bermain dengan anak kelas 5 dan 2 SD yang berlari-larian di dalam rumahnya sambil telanjang?

Bergeser pada tetangga sebelah kananku. Rumahnya juga tingkat. Dihuni oleh banyak orang, dan sekarang lebih banyak lagi. Dulu waktu aku kecil, masih ada Buyut, Bu Bambang, dan tiga orang anaknya yang sudah dewasa. Sekarang, tiga anak dewasa itu menghasilkan dua orang cucu dari tiap-tiap individunya. Jadi, total isi rumah itu adalah 12 orang, ditambah pasangan si tiga anak dewasa, dikurangi Buyut yang sudah meninggal.

Mereka adem ayem. Tidak pernah memanggilku dengan ritual telanjang atau hal-hal lain yang membuatku berpikir bahwa mereka adalah orang aneh. Hanya saja, yang membuatku heran adalah, betapa rapatnya rumah itu. Jendelanya tidak pernah dibuka. Dan selalu gelap. Waktu kecil dulu, aku tidak pernah mau dititipkan di dalam rumah itu jika ayah atau ibuku belum pulang. Di dalamnya gelap. Jika ada lampu pun, semuanya berwarna kuning temaram. Yang terang hanya taman di lantai paling atas. Aku tidak boleh menuju ke taman itu. Bu Bambang selalu bilang kalau aku akan jatuh dari atas sana jika aku berani naik di atasnya.

Dari kamera mataku, dua rumah, tiga bersama rumahku, ada benang merah yang bisa kuambil sama rata. Di rumah pertama, dua anak itu selalu berjalan dan berlarian dalam keadaan telanjang. Mereka tidak akan melakukan itu di luar pagar rumah mereka. Di rumah kedua, Bu Bambang bisa mengusirku dari taman yang dirawatnya (seharusnya dia bisa mengatakan bahwa “jangan dicabut ya daun atau bunganya”, bukan mengatakan aku akan jatuh ke lantai satu jika aku berani masuk ke taman itu).

Di rumahku, hingga kelas 4 SD, aku juga selalu memakai kaus dan celana dalam saja ketika pulang sekolah. Di rumahku, aku selalu mencabut bunga yang ditanam ibuku. Di rumahku, aku bisa mematung berjam-jam di dalam kamar mandi. Di rumahku, aku bisa tidur sampai mati. Semuanya bisa kulakukan di rumahku, tanpa harus pusing apakah orang lain akan marah padaku atau tidak.

Mungkin jika besok aku berhasil memiliki rumah sendiri, aku akan menaruh kuda cokelat besar di belakang rumahku. Membuat dapur seluas lapangan futsal. Menanam sedikit “daun segar” untuk kemudian dikeringkan. Membuat kolam di bawah rumahku. Atau bahkan mewujudkan mimpi si Bapak, bahwa SBY akan bertandang ke rumahku, dan aku bisa mempersilahkannya pergi.

Sesederhana penangkapanku akan kata-kata si Bapak. Aku merangkumnya menjadi sebuah mimpi dan motivasi bahwa aku bisa melakukan apa pun di dalam rumahku, bahkan ketika rumah itu dalam keadaan terburuknya, entah bocor, berukuran kecil, atau ada retakan di dindingnya.

Rumahku sendiri..

Sebuah rumah yang bisa kudapat dari mimpi yang kujadikan kenyataan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar