Minggu, 18 September 2011

...........

Musik itu bertalun merdu, tidak pekak, dan tidak sumbang. Iramanya pas, tepat memasuki setiap sela cuping telingaku. Membuat otakku terusik untuk merancang sebuah irama baru yang kucoba untuk dimasukkan dalam tiap baris kata yang ada.

Sekelilingku gelap, tapi aku tidak buta.
Sebarisanku menjadi sedikit sama, tapi tidak seirama, hanya berjalan pada arah yang berbeda.

Aku menyadari, bahwa apa yang telah dibuat dan dirancang tidak begitu mudah untuk diakui menjadi hak milik kita.

Sekelilingku terang, dan aku mulai menutup mata.

Sebarisanku mulai mencari cara untuk berjalan pada langkah yang beriringan.
Aku menyadari, bahwa apa yang telah dibuat dan dirancang begitu sulit untuk dijadikan bagian dalam diri kita.

Darah di dalam nadiku terus bergerak, mencoba untuk memberiku peringatan bahwa aku tidak bisa diam.

Jika darah itu bergerak, maka akan ada kata lain yang disebut dengan nafas.
Dan jika nafas itu berhembus, maka akan ada rambu lain yang menyatakan bahwa aku harus tetap berdiri.

Dipaksa untuk mengerti bahwa yang lainnya juga masih berjalan.
Entah sendiri, berpasangan, berteman, bergandengan, berkonflik, bertengkar, berdamai, atau tetap bergulat pada sebuah masa, di mana tidak ada lagi kerinduan untuk mencoba sesuatu yang baru.

Ada kehampaan dan sedikit kekosongan yang mencoba mengisi ruang dalam diriku. Aku sampai pada titik yang mendorongku untuk terjun pada suatu keadaan yang menjepit.
Aku bimbang, bingung, dan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk memulai segala sesuatunya.

Aku mulai meracau.

Bergegas mencari padanan hidup itu ternyata sulit. Aku harus memulainya dari keberpijakan yang semu. Meraba-raba, dan tidak ada yang membantuku untuk mengatakan “iya..”. Anggap saja aku mulai sendiri, termakan oleh pikiranku sendiri.

Aku melemah.

Musik ini tidak bisa menolongku. Aku tetap tidak beranjak dari kehampaan yang tidak kuhadirkan di hadapan orang lain.

Aku ingin berteriak, melepas segala ketakutanku. Ketakutan yang belum tentu terjadi, dan hanya akumulasi dari apa yang kupikirkan.

Dan aku merasa menjadi makhluk bodoh yang tetap mengikuti kebodohanku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar